Home » » Epistoholik, Parlemen Kertas, dan Media

Epistoholik, Parlemen Kertas, dan Media

Written By Agus M. Irkham on 18 Apr 2009 | 06:00



: agus m. irkham

Dunia sudah gila! Di saat banyak orang menghabiskan waktunya di jalan raya, memperjuangkan setiap detik waktu yang dilaluinya demi menjamin keberadaan wadag-nya, ternyata ada sosok manusia ajaib. Tiap hari kerjaannya menulis surat pembaca. Bahkan telah menjadi candu. Hingga julukan epistoholik pun melekat erat. Besar kemungkinan kalau ada dokter mengatakan, “Jatah hidup Anda tinggal satu menit.” Maka yang akan dilakukan pengidap epistoholik ini hanya satu. “Aku akan menulis surat pembaca lebih cepat!”

Begitul kira-kira, ‘nikmat’ yang Saya dapat ketika ‘mengobok-obok’ Joko Suprayoga, agustus 2005 lalu, warga epistoholik Indonesia asal Kendal. Joko pada tahun 2004 pernah diganjar sebagai penulis Surat Pembaca paling produktif (127 surat!). Selain Joko, kalau Anda tergolong rajin membaca harian ini, tentu akrab dengan nama-nama selebritas Surat Pembaca lainnya: Andreas Adhy Aryanto (Purwodadi), Tryas Hadi Prihantoro (Solo), Purnomo Iman Santoso (Semarang), dan beberapa nama lainnya.

Untuk tahu lebih jauh tentang EI, Saya memberanikan diri membuka-buka BH (Bambang Haryanto), kepala “suku” epistoholik Indonesia (EI, Komunitas Penulis Surat Pembaca se-Indonesia). Demi BH, hampir setengah hari, saya rela terguncang-guncang di dalam bus, menempuh perjalanan darat sejauh tidak kurang 220 km. BH menulis surat pembaca sejak tahun 1973 hingga sekarang. Lebih dari 31 tahun! Prestasi edan!

BH tinggal di Kajen, Wonogiri, merupakan epistopois-nya suku EI. Dalam lingua epistoholotica, kamus yang menghimpun lingo atau prokem suku EI, epistopolis berarti “kota suci” yang menjadi kiblat kaum epistoholik, karena menjadi domisili tokoh epistoholik dan jadi epicenter, pusat gempa penyebaran ide-ide dan aksi kaum epistoholik

Surat Pembaca (SP) sebagai sebuah rubrik, baik buat pembaca maupun buat medianya sendiri mempunyai peranan yang cukup strategis. Buat media, penting sekali. Mengapa? Karena dari penulis SP bisa menjadi data awal sebaran lingkup konsumen media (dibaca siapa saja, respon pembaca terhadap isi media, sampai mana edar distribusinya), bagian dari membentuk komunitas pembaca.

SP bisa menjadi konsultan gratis, untuk perbaikan (terus menerus) sebuah media Menunjukkan ketidakberjarakkan antara redaksi dan pembaca. Merupakan salah satu bentuk komunikasi antara produsen (redaksi) dengan konsumen (pembaca). Jadi, SP juga bagian dari mengikat konsumen sekaligus upaya memperluas pasar.

Bisa menjadi semacam public realation (PR). Dan SP ternyata mempunyai dunianya sendiri, lengkap dengan “kode etik” dan lingo. Tidak bisa dianggap remeh, sebagai bahan olok-olokan—apalagi kalau bicara kadar kebenaran, ada banyak kebenaran dalam SP. SP (epistle) mampu memberdayakan pecandunya. Setiap kalimat yang tersusun membiak menjadi sebuah dialog yang akrab, hangat dan membahagiakan. Ia merupakan gabungan antara teks yang dibaca, dan pengalaman penulisnya. Buah dari mengakrabi kehidupan.

Cocok dengan rumusan Emanuel Rosen dalam bukunya The Anatomy of Buzz. (2000). Rosen menyebut orang yang menulis Surat Pembaca sebagai the influential Americans (orang Amerika yang berpengaruh). Pada titik ini, Surat Pembaca bisa menjadi outlet demokrasi sekaligus katup pengaman sosial. Tulisannya tidak semata-mata berisi grenengan yang sifatnya pribadi, tapi menyangkut kepentingan sebagian besar masyarakat: (layanan birokrasi, tarif parkir, kenaikan BBM, eksistensi bangunan kuno, pasar johar, dan sebagainya). Seorang penulis surat pembaca adalah juga seorang anggota parlemen kertas.

“Banyak orang Australia yang bilang, mereka menemukan sesuatu yang benar dan menarik di lembaran surat pembaca.” Tulis Lasma, warga EI yang tinggal di Melbourne (Australia).

Linear dengan Rosen dan Lasma, Susanna Tamaro, seorang novelis pun turut memuji keberadaan epistoholik. Tamaro dalam novelnya Va’ Dove Ti Porte Coure—kini telah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia dengan judul Pergilah Kemana Hati Membawamu (Gramedia, 2005)—menulis: “Dan surat-surat pembaca itu. Tak hentinya aku mengagumi hal-hal yang ditulis dengan berani oleh orang-orang itu.”

September 2005 lalu, Harian Solopos dalam miladnya ke-8 tahun, bahkan merasa perlu memberikan Solopos Award kepada epistolaureate warga EI, Mbah Soeroyo (82), sebagai penulis Surat Pembaca terbanyak tahun 2005.

Menulis Surat Pembaca juga bisa menjadi “jalan ketiga” dari keinginan menjaga nafas panjang menulis dengan keinginan untuk dimuat. Karena ketika dimuat, ledakan efek candunya lebih luar biasa! Menulis lagi, lagi, dan lagi. Surat Pembaca juga bisa dijadikan sarana mencari—ini istilah Bambang Haryanto—rejeki yang intangible, yaitu jeneng (nama baik atau reputasi) atau yang tangible alias jenang (rejeki, uang). Tapi, tentu saja dengan cara-cara yang sesuai dengan koridar yang telah disepakati.

Epistohlik, mengikuti tesis Ignas Kleden (1999) tergolong manusia yang melek budaya. Ciri buat mereka yang tergolong melek budaya adalah varian tema bacaan (buku) luas, setiap bulannya menganggarkan sebagian dari pendapatannya untuk beli buku, serta gemar menulis surat pribadi (personal letter). Surat Pembaca adalah salah satu bentuk surat pribadi.♦
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. kumpulan artikel gratis - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger