Update Artikel Terbaru
Showing posts with label TIPS MENULIS. Show all posts
Showing posts with label TIPS MENULIS. Show all posts

Tiga Syarat Proses Kreatif Menulis

Written By Agus M. Irkham on 13 Mar 2011 | 21:12



:: agus m. irkham

"Menulislah dari sumber yang tidak pernah kering, SAMUDRA. Bukan dari sumber yang suwaktu-waktu bisa kerontang, SUNGAI"

--Nasihat Seorang GURU di tahun 2001--

Ide tulisan berasal dari aktivitas membaca. Baik secara tekstual, maupun kontekstual. Yang dihasilkan dari cara membaca tekstual adalah pengetahuan akan fakta-fakta. Orang menyebutnya sebagai data dan informasi. Sedangkan cara membaca kontekstual menghasilkan pemahaman. Disebut pula sebagai realita. Apa itu realita? Realita adalah rangkaian peristiwa yang jalin menjalin hingga memungkinkan berlangsungnya suatu kejadian atau fakta. Cara membaca yang kontekstual disebut pula sebagai membaca di balik yang nampak.

SUNGAI adalah ide tulisan yang berasal dari cara membaca tekstual. Berbasis pada materi. Instan, cepat diperoleh. Tapi juga bisa menghambat. Jika Anda menyandarkan referensi tekstual sebagai bahan utama tulisan, dan andai saja referensi buku yang Anda butuhkan tidak ada, sulit menyelesaikan tuisan. Seringkali tiadanya teks acuan saat akan menuliskan sesuatu inilah yang saya sebut sebagai SUNGAI yang kering.

Beda dengan SAMUDRA. Ia tak pernah kenal kering. Biar stunami sekalipun. SAMUDRA adalah cara membaca kontekstual yang berarti kehidupan ini, termasuk kedirian Anda. Menjadikan SAMUDRA sebagai sumber ide, berarti menjadikan kehidupan ini dan diri Anda sebagai sumber inspirasi. Itu sebab, untuk sebagian orang, meskipun jarang sekali bahkan tidak pernah membaca teks, tetapi produktif menghasilkan tulisan. Karena tulisan adalah KEHIDUPANNYA itu sendiri. Sehingga ia tak perlu mencari teks-teks di luar dirinya. Nah kalau yang dijadikan sumber ide adalah SAMUDRA, maka dapat dipastikan, dalam kondisi dan situasi apapun, Anda tidak akan kesulitan mendapatkan ide. Ide tidak lagi Anda cari dan kejar. Sebaliknya Anda yang akan dikejar-kejar ide.

Dengan demikian cara membaca kontekstual akan mempertajam matabatin Anda.

Pertanyaan pentingnya, bagaimana caranya (metodologinya) agar dapat melakukan pembacaan kontekstual itu? Hingga memiliki matabatin (kesadaran) yang tajam?

Pertama harus ada API PEDULI atau CINTA KASIH. Banyak orang menyebutnya sebagai SIMPATI. Kedua, diri Anda musti hadir dan lumer dengan kehidupan; KETERLIBATAN atau boleh disebut sebagai EMPATI. dan yang KETIGA harus sesuai dengan NILAI-NILAI UNIVERSAL. Pelumeran (sublimasi) atas ketiganya oleh WS. RENDRA diikat ke dalam satu kalimat: Masuk ke dalam kontekstualitas sambil meraih ridha Allah!

ilustrasi: ressay.wordpress.com
Gringsing, Batang
14/3/2011
08:21 wib

Tiga Komponen Penting Artikel

Written By Agus M. Irkham on 22 Feb 2011 | 10:46



:: agus m. irkham
--dicuplik dari buku Prigel Menulis Artikel--

Artikel merupakan salah satu jenis tulisan yang unik. Berisi tentang suatu yang ilmiah, tapi dikemas dengan bahasa yang cair, ngepop dan menarik. Tidak membuat dahi berkerut. Bahasa artikel adalah bahasa pinter. Jika ada pameo orang pintar membuat sesuatu yang sulit menjadi mudah dipahami. Pameo tersebut berlaku untuk seorang penulis artikel.

Karena pembaca artikel di koran memunyai tingkat mamah kertas (kemampuan memahami teks) yang yang berbeda-beda, Anda harus betul-betul bisa membayangkan karakteristik pembacanya. Sehingga bisa menentukan gaya penulisan seperti apa yang akan Anda gunakan. Ini bertujuan untuk mengurangi resiko banyaknya jumlah pembaca yang tidak memahami tulisan Anda.

Salah satu cara untuk mengetahui apakah artikel Anda bisa dipahami oleh orang lain/pembaca, adalah dengan berempati menjadi orang lain. Kemudian Anda membaca artikel tersebut. Anggap artikel itu adalah tulisan orang lain. Jika Anda merasa bingung, berarti tingkat keterbacaan artikel itu tergolong rendah. Anda harus revisi, agar lebih mudah lagi dipahami. Kalau tidak terpaksa sekali, jangan menggunakan kata-kata sulit (asing). Gantilah kata-kata asing tersebut menjadi kata yang mudah dipahami oleh pembaca.

Tidak ada aturan tunggal atau baku, suatu artikel disebut bagus. Karena bagus-jeleknya sebuah artikel sebenarnya terletak pada suka tidak suka (like and dislike) redaktur, lebih tepatnya pembaca. Sekadar penggambaran saja, Anda suka makan bakso, ketika main ke rumah teman, Anda ditraktir mie ayam. Anda tidak terlalu bersemangat memakannya. Lalu apakah mie ayamnya tidak enak? Belum tentu. Karena ternyata teman Anda memakannya dengan sangat lahap, sampai keluar keringat. Persoalan sebenarnya sederhana: Anda lebih suka dan mengharapkan ditraktir bakso.

Persis seperti artikel. Ketika artikel Anda tidak dimuat, lalu apakah artikel itu jelek? Belum tentu. Siapa tahu artikel Anda belum sesuai dengan keinginan dan kebutuhan sebagaian besar pembaca. Atau gaya tulisan Anda sulit dipahami.

Meskipun begitu, kalau ”dipaksa-paksa” ada sih sedikit rumusan tentang sebuah artikel yang baik itu seperti apa. Pertama, apabila artikel yang ditulis mampu menggerakkan pembacanya. Setiap kalimat yang tersusun membiak menjadi sebuah dialog yang hangat, akrab, dan membahagiakan. Gaya tulisannya khas dan beda hingga terus melekat di ingatan. Ia merupakan gabungan antara teks yang dibaca dan pengalaman penulisnya. Buah dari mengakrabi kehidupan. Membuat pembaca mendapatkan sesuatu setelah ia selesai membaca.

Saya punya cara jitu bagaimana melatih menulis artikel yang bagus. Yaitu dengan (awalnya) meniru penulis lain yang saya anggap pas banget dengan gaya yang saya maui. Cara demikian disebut bencmarking. Meniru bukan berarti, lantas saya sekedar copy paste saja, atau hanya sekedar mengekor. Saya coba “meniru” berbagai gaya menulis, lalu menggabungkannya menjadi satu tulisan utuh. Sampai kapan peniruan itu saya lakukan?

Pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan latihan menulis terus menerus. Ternyata proses latihan yang terus tiap hari tanpa putus, membuatku mulai berani untuk menulis dengan gaya saya sendiri.

Gaya tulisan penulis-penulis lain membantu menemukan gaya tulisan saya sendiri. Seperti itulah arti tulisan orang lain. Ia hanya sekedar menunjukkan jalan saja, tapi untuk sampai pada yang tujuan, saya harus berproses sendiri. Karena satu metode menulis tertentu untuk satu orang tepat, tapi belum tentu untuk orang lain. Meski begitu sebagai sebuah pilihan cara belajar, teramat sayang kalau harus dilewatkan.

Artikel yang baik dilihat dari judul, lead atau pemantiknya atau ada yang menyebut entry point, gaya penyajian isi serta dan paragraf akhir penutup artikel. Dua hal pertama yang saya sebut, peranannya sangat paling, tapi bukan berarti dua hal terakhir tidak penting. Judul dan pemantik menjadi sangat penting, karena menjadi perhatian pertama (calon) pembaca. Pembaca memutuskan untuk membaca artikel secara lengkap atau tidak biasanya setelah membaca judul dan paragraf pertama artikel.

Maka dari itu, berilah judul artikel dengan judul yang mudah diingat sekaligus “menggigit.” Sebab pembaca hanya perlu 4 detik untuk menyimak. Intimidasilah pembaca agar tergerak untuk membaca saat itu juga. Agar menggigit judul harus relevan, ada hubungannya dengan isi artikel yang Anda tulis. Provokatif, dapat menimbulkan hasrat ingin tahu dan antusiasme pembaca. Di dalamnya terkandung-sebuah kesimpulan. Singkat, mudah ditangkap maksudnya, pendek kalimatnya, dan enteng diingatnya.

Judul bisa memakai plesetan frase-frase yang sudah terkenal misalnya: “Preman Tapi Mesra”. Plesetan dari lagunya grup musik Ratu, Teman Tapi Mesra. “Buruk Muka Struktural, Cermin Sosial Dipecah”. Plesetan dari peribahasa Buruk Muka, Cermin Dibelah. “Jaring Pengamen Sosial”. Plesatan dari Jaring Pengaman Sosial. Atau menggunakan kata yang memunyai kesamaan rima seperti: “Kekerasan, Keti dan Rok Mini.” “Televisi, Kaya Laba Miskin Wacana.” “Manajemen Kurangajar Buku Ajar.” “Bahaya Bangsa Tanpa Minat Baca.”

Setelah judul, sekarang giliran pemantik. Pemantik harus mampu “berbicara,” meninju, menerbitkan rasa penasaran, hingga pembaca bersemangat untuk membaca paragraf-paragraf selanjutnya. Pemantik jangan terlalu panjang cukup dengan 3-5 kalimat pendek. Tiap kalimat antara 5 hingga 10 kata. Salah satu cara menguji apakah sebuah pemantik “bicara” atau tidak adalah dengan membacanya keras-keras. Kalau nafas Anda terasa habis dan tersengal-sengal ketika membacanya, berarti pemantik itu terlalu panjang.

Pemantik bisa berupa kutipan langsung. Tujuanya untuk mengagetkan pembaca, sambil mengajak mereka langsung masuk ke dalam tulisan Anda. Sumber kutipan bisa dari buku, ucapan orang lain yang kita dengar, atau pengalaman Anda sendiri, ketika berbicara dengan orang lain. Contoh :

“Mas, coba nulis tentang budaya baca warga Semarang, tapi yang mengarah pada optimisme, jangan sebaliknya, justru mendatangkan rasa pesimis dan apatis.” Pinta Joko Pinurbo, penyair asal Yogya, peraih penghargaan Katulistiwa Literary Award 2005, sekaligus wakil pemimpin redaksi majalah Matabaca. Saat itu kami satu mobil dalam perjalanan dari Depok menuju Jakarta. Usai menghadiri talk show “Membangun Komunitas Baca dan Tulis” di Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia 20 Maret 2003. Saya mengiyakan saja permintaan itu, saya tampung, untuk kemudian…lupa!”

(Budaya Baca Warga Semarang, Kompas, 30/5/2006).

Isi artikel yang disukai pembaca adalah artikel yang tidak berkesan menggurui, tidak bertele-tele, mengandung unsur humor, dan jika memaparkan data, tidak membuat pembaca bingung. Buatlah paparan data itu mudah dipahami oleh pembaca yang paling awam sekalipun.

Sekarang ada yang namanya kaedah jurnalisme presisi. Secara sederhana, oleh Eriyanto (1999) diartikan sebagai metode penulisan (dan atau artikel) dengan menggunakan penelitian ilmu sosial kuantitatif. Peristiwa, karakteristik, tingkah laku, atau sikap diubah menjadi angka-angka untuk ditelaah dan dianalisis.

Apa guna meneliti sebelum menulis? Pertama membantu kita mengurangi kesalahan, ketidakakuratan, ketidakobjektifan tulisan. Kedua, kita benar-benar menjadi orang yang tahu bukan sekadar pengamat atau pembuat analisis. Paparan data bisa berwujud tabel, diagram, grafik, dan sebagainya.

Dan terakir adalah penutup atau closing. Tutup tulisan Anda dengan kalimat (paragraf) yang mengundang pembaca tersenyum sekaligus merenung. Membuat penasaran, mengompori pembaca untuk memberikan tanggapan (polemik), atau berupa penegasan sikap yang bersifat mengajak. Contoh:

(1)
“Masyarakat cilukba adalah masyarakat hangat-hangat tahi ayam. Gampang heboh, latah, emosinya gampang tersulut, tapi juga gampang lupa. Kemarin ramai bicara soal kenaikan harga BBM, sekarang sibuk berbicara soal impor beras, besok soal reshuffle kabinet, lusa entah larut tentang apalagi. Ketika ditanya soal itu semua, modus jawabannya hanya satu: sudah lupa tuh! “

(Dari Buta Huruf Sampai Cilukba, Kompas 17 Februari 2006)

(2)
“Di tengah rencana pemerintah menghidupkan kembali komando teritorial (KOTER), pengawasan ketat terhadap pesantren-pesantren, dan setiap warga negara dihimbau untuk segera mendaftarkan nomor ponsel yang dimiliki—himbauan berbau paranoid. Tentu upaya melejitkan potensi humoris yang dimiliki tiap individu menjadi begitu relevan. Namun, ini harapan Saya, mudah-mudahan saja kita tidak meninggal gara-gara Mati Ketawa Cara Rus… eh Indonesia!”

(Mari Menertawai Diri Sendiri, Kaltim Post, 22/11/2005)

Bersihkan tulisan Anda dari kesalahan penulisan huruf, terutama kesalahan ejaan kata asing. Jangan sampai artikel yang Anda kirim penuh dengan “bedak” yang menutup kesalahan penulisan yang kelewat banyak. Endapkan saja sehari-dua hari, baca lagi. Baca versi cetaknyadi (print out), karena akurasinya lebih tinggi dibandingkan membaca langsung di layar komputer.

“Kebersihan” tulisan sangat membantu redaktur membaca dan menyeleksi tulisan. Jika baru membaca judulnya saja, sudah menemukan kesalahan huruf, tentu untuk membaca tulisan selanjutnya menjadi malas. Memastikan tulisan bersih dan benar (clear and correct) akan sangat membantu kenyamanan pembaca. Karena berdasarkan pengalaman, saya pernah mengirim tulisan, meskipun sudah mati-matian saya edit, tetap saja ada satu dua huruf yang kelewat. Padahal artikel sudah kadung saya kirim. Singkat cerita ketika dimuat, ternyata kesalahan itu belum dibetulkan. Meski tidak mengurangi substansi isi keseluruhan tulisan, tetap saja saat dibaca terasa mengganggu.

Tulis yang Paling Dekat

Written By Agus M. Irkham on 23 Jan 2011 | 06:26



:: agus m. irkham

First keys on writing is to write. Not to think!” Kunci pertama menulis adalah menulis. Bukan berfikir. Demikian ucap William Forrester di depan Jamal Wallace dalam film Finding Forrester. Ada kata bijak mengatakan begini: cara belajar yang terbaik adalah dengan mempraktikkannya. Sama halnya dengan olah raga berenang. Anda sudah menguasai segala macam gaya, teori gerakan, sudah nglotok, hafal di luar kepala. Tapi Anda tidak pernah nyemplung ke kolam renang.

Ya, sekali nyemplung, yang ada gaya batu alias tenggelam. Banyak membaca buku berisi teori bagaimana menulis artikel, memang penting. Tapi yang terpenting adalah keberanian untuk memulai. Saya mengkategorikan penulis ke dalam tiga jenis.

Jenis pertama mereka yang tidak tahu teori tapi terus belajar/praktik menulis. Trail dan error terus dicoba, lama sekali golongan pertama ini bergelut dengan huruf, kesalahan-kesalahan terus terjadi. Tapi mereka menjadikan kesalahan dan kegagalan itu sebagai guru. Bukankah kegagalan adalah sukses yang tertunda. Dengan mental baja dan semangat empat lima, akhirnya mereka menemukan cara yang paling tepat untuk menulis. Termasuk menemukan gaya tulisan yang paling pas dan khas untuk dirinya sendiri.

Jenis kedua, tahu teori tapi tidak pernah menulis. Segala macam teori menulis dikuasai, tapi sangat malas praktik nulis. Hasil akhir dari penulis jenis kedua ini, menjadi penulis hanya berhenti in your dream! Hanya ada dalam mimpi. Nasibnya persis seperti perenang gaya batu tadi.

Jenis ketiga adalah mereka yang tahu teori tapi juga praktik. Ini jenis yang paling ideal. Karena dengan tahu teori, Anda tidak perlu melakukan kesalahan-kesalahan yang sudah pernah terjadi pada penulis lain. Tidak perlu memakan waktu yang sangat lama untuk bisa betul-betul menulis. Anda bisa memintas waktu.

Tapi, tetap saja senjata yang paling ampuh untuk bisa menulis adalah menulis. Persis seperti yang dikatakan Kuntowijoyo (alm): ada tiga cara untuk menjadi penulis, yaitu dengan menulis, menulis, dan menulis. Terlepas apakah Anda menguasai teori atau tidak. Terserah jenis tulisan apa yang akan Anda tulis. Menulis catatan harian, tips belajar mudah, cara menulis catatan kuliah yang menarik sehingga kalau membaca ulang tidak bikin ngantuk. Menulis rencana harian aktivitas Anda, menulis surat...cinta, menulis daftar buku-buku yang harus dibeli dan dibaca, dan lain-lain terserah Anda.

Apa yang harus ditulis, pada awal-awal belajar menulis? Tentu saja Anda harus memulai menulis sesuatu yang paling dekat denganmu. Dekat bisa berarti kedekatan fisik, tempat tinggal. Misalnya Anda bertempat tinggal di daerah dekat pantai, tulis saja tentang pantai. Atau dekat pabrik yang mengeluarkan limbah hingga mencemari sungai. Tulis saja tentang dampak limbah pabrik terhadap Anda dan tetangga-tetanggamu.

Dekat yang kedua berarti kedekatan rasa,dan minat. Misalnya Anda sangat menyukai sepakbola, menulislah tentang sepakbola. Menyukai olahraga naik gunung, tulis suasana riang dan dingin udara ketika Anda berada di puncaknya. Tulis yang menjadi bagian dari keseluruhanmu pengalaman hidupmu. Hingga Anda tidak perlu mencari-cari sumber-sumber informasi atau bahan tulisan dari lain tempat atau lain orang.

Karena Anda adalah referensi itu sendiri. Pengalaman yang Anda rasakan akan menjadi referensi yang tidak akan habisnya. Ibarat air, kisah hidupmu adalah samudra, yang airnya tidak akan pernah habis, meskipun sering diambil. Dan tulisan yang ditulis berdasarkan pengalaman biasanya, ada semacam aura yang dapat menyihir pembacanya. Mereka larut ketika membaca tulisan itu. Seluruh emosi, simpati dan empatinya ikut masuk, mengikutimu. Karena tulisan itu ditulis tidak dengan teknis saja, sebenarnya merupakan suara hati.

“Penulis harus jujur. Tulis yang paling tahu, paling tidak yang paling menjadi perhatian. Tidak usah ikut-ikutan tren. Karena keberagaman justru menjadi penting.” Ujar Dewi “Dee” Lestari dalam sebuah diskusi di Semarang akhir Mei 2006 lalu. Apalagi jika membaca batasan yang diberikan beberapa penulis tentang artikel:

“…anggap saja anda menulis untuk siapa saja. Untuk menteri pekerjaan umum, untuk tetangga sebelah, untuk penata rambut, untuk anak SMA yang tidak suka merokok. Dan untuk anda sendiri di waktu sakit.…”
Demikian terang Eka Budianta, penulis buku Menggebrak Dunia Mengarang.

Atau lebih sederhana lagi, rumusan dari Slamet Soeseno, penulis rutin rubrik ilmiah populer di majalah Intisari: “Artikel adalah tulisan yang berisi sikap atau pendirian subyektif mengenai masalah yang sedang dibahas dilengkapi alasan dan bukti yang mendukung pendirian itu.”

Nah, mulailah menulis sesuatu yang paling Anda sukai. Yang paling dekat dengan dirimu. Anggap saja artikel itu surat pribadi untuk sahabat karibmu atau untuk dirimu sendiri. Bukankah setiap orang paling suka jika diminta untuk menceritakan (dengan omongan atau tulisan), tentang sesuatu yang menjadi kesukaannya?

*)Dikronik dari buku Prigel Menulis Artikel, Agus M. Irkham, 2007.

Migrasi Etalase Tulisan

Written By Agus M. Irkham on 17 Jan 2011 | 18:40



:: agus m. irkham

Harus diakui media teks berbasis pohon (kertas) tidak akan sepenuhnya ditinggalkan masyarakat. Meskipun demikian, adanya pergeseran dan perubahan cara orang mengonsumsi informasi, dari kertas ke byte (digital, internet) juga tidak dapat dianggap sepi. Bahkan perkembangan dunia maya, tidak saja menggeser adab kebiasaan orang mendaras informasi, tapi juga bagi si produsen informasi.

Meskipun belum menjadi kecenderungan umum yang bersifat masif, migrasi etalase tulisan (penulis) sudah berlangsung. Untuk menulis dan mempublikasikannya, kini koran dan majalah tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan. Calon penulis, bahkan penulis mapan pun sekarang ini mulai memanfaatkan halaman catatan (note) di facebook, blog, dan mailing list sebagai sebagai wadah melenturkan otor menulisnya. Sekaligus menjadi wahana menernak ide dan tulisan untuk kemudian hari akan dijahit menjadi satu buku utuh.

Bahkan, facebook, sebagai situs jejaring sosial yang paling banyak digunakan di Indonesia, juga digunakan penerbit untuk menghimpun naskah, dan mencari penulis-penulis baru. Tak sedikit pula buku yang terbit, awal kemunculan idenya dari gunjingan yang berlangsung di dinding (wall) laman buatan Mark Zuckerberg ini. Sekadar menyebut contoh, Emak-Emak Fesbuker Mencari Cinta (Leutika, 2010), Mendengarkan Dinding Fesbuker, dan Selaksa Makna Cinta (Pustaka Puitika, 2010).

Mengapa facebook, blog, dan mailing list mulai disukai, bahkan telah menjadi alternatif utama etalase tulisan?

Pertama, dekonstruksi otoritas. Layak muat tidaknya tulisan tidak lagi diserahkan pada satu dua orang (redaktur), tapi sepenuhnya berada pada diri si penulisnya. Begitu ia menekan tombol publish (terbitkan), maka seketika itu pula tulisannya bisa di baca orang dari segala penjuru arah mata angin. Dekonstruksi otoritas ini juga menipiskan kemungkinan si penulis (pemula) ini terluka, lantaran kritikan pedas redaktur. Juga mengurangi tingkat kemungkinan mogok, apatis tidak mau menulis lagi, lantaran tulisannya tidak pernah dimuat, sudah begitu tidak ada kabar atau pemberitahuan sama sekali.

Kedua, sifat interaktif dan interkonektisitas. Selain kecepatan proses terbit, kecepatan respon atau komentar atas tulisan juga menjadi magnet tersendiri buat para penulis. Komentar itu menjadi semacam bensin yang akan menambah besar nyala api semangat menulis. Apapun komentarnya. Baik sekadar like, komentar pendek, asal, maupun panjang nan analitik. Dan rupa-rupanya bagi sebagian besar penulis pemula, kebutuhan apresiasi ini jauh lebih penting ketimbang honorarium yang lazimnya hanya bisa diperoleh saat menulis di koran dan majalah.

Sifat interkoneksitas juga memungkinkan terjadinya dialog, baik afirmasi, negasi maupun perluasan dan pelengkapan atas tulisan yang di-posting. Pembaca tidak sekadar atau semata-mata membaca, berhenti hanya sebagai objek, tapi dalam waktu berbarengan juga bisa sama-sama menjadi subjek. Dengan cara turut pula menampilkan tulisan yang berkaitan atau membagi pengalaman membacanya atas satu tema yang sama melalui penulisan tautan (link) ke note atau laman pribadinya. Yang terjadi kemudian adalah desentralisasi informasi dan pengetahuan. Tiap diri memiliki hak yang sama untuk mengonsumsi, menginterpretasi, sekaligus memproduksi (ulang) informasi. Pada titik itu lumerlah apa yang disebut dengan kolonialisme pengetahuan.

Ketiga, menulis di facebook, blog, dan mailing list bisa menjadi sarana—meminjam istilah yang diberikan Hernowo—mengikat makna. Kalau sebelumnya pengikatan makna hanya di buku harian, yang sifatnya pribadi dan rahasia. Kini hasil pengikatan itu ditawarkan dan digelindingkan kepada publik. Laksana bola salju, tulisan itu saat turun ke bawah akan menggelinding kian cepat, dan ukurannya bertambah besar. Kiat cepat dan besarnya ukuran bola salju ini dapat dianalogikan sebagai bertambah luasnya perspektif yang didapatkan oleh penulis saat isi diary itu dibuka ke ruang publik. Tentu ini menjadi masukan, dan materi berharga jika ikatan-ikatan tersebut akan disambung menjadi seutas tali utuh bernama buku.

Menulis di koran dan majalah menjadi jalan yang baku bagi seseorang yang ingin merintis karir menjadi penulis. Itu dulu. Sekarang, tidak harus begitu. Sudah muncul berderet nama penulis mula yang telah berhasil menelurkan bukunya, tanpa terlebih dahulu menulis di koran. Jadilah migrasi etalase tulisan itu menjadi modus baru penerbitan buku. Menjadi jalan pintas berkarir di dunia ideas. Dan saya kira sah-sah saja. Toh pada akhirnya secara alamiah nanti akan terseleksi dengan sendirinya. Para pembaca buku di Indonesia sudah semakin pintar. Mereka bisa membedakan mana buku yang bermutu, dan mana yang sekadar proyek pecah telur alias asal terbit dan berburu label sangat laku (bestseller). Yang begitu, menurut pandangan saya akan menambah gairah dunia penerbitan. Membentuk titik keseimbangan baru (kualitas, harga, dan kuantitas) pada level yang lebih tinggi. Dan justru cara baru ini bisa menjadi sarana agar perkembangan dunia perbukuan di Indonesia kian bergegas.

Ilustrasi : technorati.com

Belajar Menulis dari Teny dan Vivi

Written By Agus M. Irkham on 13 Jan 2011 | 20:34



:: agus m. irkham
Peristiwa ini berlangsung sekitar empat tahun lalu. Saat itu saya menjadi instruktur pelatihan menulis di klinik baca tulis perpustakaan kota magelang. Salah satu pesertanya adalah guru di SLB. Pak Budi namanya. Saya lupa, tepatnya SLB jenis atau kategori apa. Yang jelas seusai pelatihan, spontan saya diajak Pak Budi ini berkunjung ke SLB tempat ia mengajar. Untuk pertama kali, ketika saya mengiyakan ajakan tersebut, yang ada dalam benak saya adalah: siswa-siswa SLB ini harus aku dorong untuk menulis. Menceritakan tentang dunia mereka. Pandangan mereka terhadap diri mereka sendiri. Serta pandangan lingkungan sekitar menanggapi keberadaan mereka. Dapat dibayangkan inspirasi seperti apa yang bakal ditimbulkan ketika siswa-siswa berkebutuhan khusus ini. Saat mereka mampu menceritakan harapan, cita-cita, kekuatiran, pendek kata segenap apa yang mereka pikirkan kepada dunia.

Dengan semangat seperti itulah saya memasuki satu ruang kelas yang diampu Pak Budi. Olehnya, saya diperkenalkan kepada murid-muridnya. Kelas yang saya masuki adalah jenjang SMA.Teny, Vivi, Ferdy, dan Agung, adalah empat nama siswa, dari sekitar 10 siswa, yang masih saya ingat. Khusus untuk terakhir yang disebut, memiliki keterampilan khusus, yaitu pandai menggambar kartun, dan karikatur. Sedangkan dua nama awal disebut, oleh Pak Budi dikatakan sebagai murid yang menonjol. Memiliki kecerdasan dan rasa percaya diri yang lumayan tinggi ketimbang teman-teman yang lain. Tentu Anda jangan membayangkan kecerdasan yang saya maksud sebagaimana kecerdasan kebanyakan orang.

Singkat kata, saya memperkenalkan diri. Mencoba berbicara dan menyapa mereka yang seluruhnya bisu dan tuli. Tentu saja mereka tidak mendengar suara saya. Beruntung, di samping saya ada Pak Budi yang menerjemahkan ucapan saya dengan bahasa/isyarat jari. Berbarengan dengan itu, saya langsung minta diajari berkomuninasi dengan isyarat jari. Tapi tetap saja saya mengandalkan bahasa ucap, dengan cara pengucapan sedemikian rupa sehingga Teny dan teman-temannya mampu membaca gerak bibir saya. Dengan tetap ditemani ”penerjemah” saya, Pak Budi, saya terus mengajak mereka berdialog. Memberi kesempatan mereka bertanya. Oh iya, untuk pertanyaan dengan jawaban yang agak panjang, misalnya soal di mana alamat rumah saya, saya menuliskannya di papan tulis. Lalu mereka pun sambil riuh penuh ekspresi menyalin tulisan saya ke buku tulis masing-masing.

Tak terasa, waktu sudah menjelang dzuhur. Saya terus mencoba untuk berdialog. Saya beranikan diri untuk bertanya soal cita-cita setelah lulus sekolah. Ada yang mau menjadi penjual nasi goreng, ada yang mau bekerja di bengkel, banyak pula yang tidak berani menyebutkan cita-citanya. Saya tercenung mendapati kenyataan itu. Cita-cita mereka begitu sederhana dan “sepele” jika dibandingkan kebanyakan anak-anak seusia mereka di luaran sana. Bahkan kebanyakan murid-murid Pak Budi ini tidak berani bercita-cita. Mereka merasa tidak pantas bercita-cita. Menurut pak Budi salah satu kelebihan anak-anak didiknya adalah memiliki perasaan yang peka. Sensitivitasnya tinggi. Barangkali mereka tahu diri. Karena tak jarang, meskipun mereka di sekolah terlihat percaya diri, tapi ketika tinggal di rumah, atau di lingkungan rumah, mereka jadi minder. Karena tak jarang “keunikan” mereka jadi sasaran olok-olokan banyak orang. Makanya ada beberapa siswa yang terutama rumahnya jauh, lebih memilih untuk tinggal di sekolah. Yang memang fasilitas untuk itu telah disediakan pihak sekolah.

Sekarang, tibalah saatnya saya pada misi utama, yaitu mengajak mereka menulis. Tapi demi mengetahui kondisi mereka, saya urungkan niat itu. Sebagai gantinya saya mulai membagikan kartu berukuran 10 cm persegi ke masing-masing siswa. Mereka saya minta menuliskan apa saja tentang saya. Mereka saya berikan kebebasan, sebebas-bebasnya untuk memberikan komentar tentang saya. Di luar dugaan semua mau menulis, hanya saja susunan katanya tidak beraturan. Seperti yang dapat Anda baca di gambar berikut ini:


Anda paham yang dimaksudkan Teny dalam tulisan tersebut? Kalau belum berhasil menangkap maksud tulisan itu, coba Anda baca tulisan Vivi berikut, yang menurut saya tingkat kerumitannya di bawah tulisan Teny.

Bagaimana? Masih juga sulit memahami maksudnya?

***

Dua kartu itu sering saya tunjukkan pada peserta pelatihan menulis. Sekaligus saya gunakan sebagai shock terapy peserta yang tidak pede dengan tulisannya. Merasa tulisannya jelek, tidak enak dibaca, kurang sistematis, dan lain-lain alasan. Tentu, saya tidak sedang berniat menjelek-jelekkan tulisan komentar Teny dan Vivi pada saya. Saya hanya ingin mengatakan, separah-parah Anda, manusia normal, pasti tulisannya tidak akan setidak urut Teny dan Vivi. Saya jadi paham, bisu dan tuli adalah menyangkut kerja saraf, dan ini juga sangat mempengaruhi kemampuan otak/syaraf untuk mengolah, merasakan, dan menggunakan bahasa, lebih spesifik adalah kata-kata. Jadi dapat dikatakan Teny dan Vivi ini memang sudah ”ditakdirkan” untuk tidak bisa menulis. Tapi, ini simpulan saya pribadi, yang tentu saja sangat subjektif, dan belum berhasil saya cari referensi penguat atas simpulan tersebut.

Nah, saya, Anda ini kan manusia normal, tentu akan jauh lebih mudah menguasai kata-kata ketimbang Teny dan Vivi kan?!. Maka sebagai bentuk rasa syukur atas karunia kenikmatan dan kelengkapan piranti hidup yang telah diberikan Tuhan tersebut, sudah selayaknya Anda menulis. Dan jangan lagi beralasan tulisan saya jelek!

***
Dan yang mengharukan di saat saya pamit pulang, Agung maju ke depan menyerahkan gambar karikatur saya yang tengah duduk bersila dengan kedua tangan saya tengah memegang buku. Saya salami dia, sambil mengucapkan kata terima kasih. Ia pun tersenyum, sama-sama. Lalu, Teny, Ferdi, Vivi, dan siswa-siswa lain bergiliran menyalami saya, lengkap dengan senyum lepas mereka.

Batang, 29/12/2010
22.57 wib.

Tips Jitu Meresensi Buku

Written By Agus M. Irkham on 10 Oct 2009 | 06:54



: agus m. irkham
—dicuplik dari tulisan anung wendyartaka, pustakaloka kompas, yang termuat di majalah matabaca edisi agustus 2008—

Sesuai dengan asal katanya, recencie (bahasa Belanda) atau resencere (bahasa Latin), resensi berari menentukan tingkat, harga, atau nilai tertentu atau ada unsur menimbang. Dalam bahasa Inggris, book review berarti meninjau kembali atau melihat kembali. Oleh karenanya di media, rubrik resensi buku sering diberi nama: Tinjauan Buku, Timbangan Buku.

Jadi, sebaiknya resensi tidak hanya sebatas deskripsi mengenai buku, tetapi juga mengandung unsur meninjau kembali, mengevaluasi dan unsur memberi penilaian (judgment) atau menimbang.

Unsur menimbang dan memberi penilaian ini sangat penting., tapi justru sering kurang mendapat perhatian dari para peresensi. Kebanyakan yang terjadi adalah peresensi terjebak hanya membuat DESKRIPSI, EVALUASI, dan mengungkap PENJELASAN mengenai ide atau tesis utama dan penulis.

Hal ini memang bisa mengungkap dan memahami apa yang ingin ditulis atau disampiakan oleh penulis buku tersebut, tapi masihlah belum cukup. PENILAIAN KRITIS berupa penilaian akhir terhadap buku menjadi bagian tidak terpisahkan dari sebuah kesimpulan atau bagian penutup resensi.

Bagian akhir ini tidak berisi kelemahan dan kekuatan dari buku saja, tetapi bisa juga berisi perbandingan buku berupa penilaian posisi buku tersebut dan penulisnya terhadap buku lain sejenis, perbandingan dengan karya-karya lain dari penulis, pernyataan dari peresensi mengenai sejauh mana maksud penulis tercapai dalam buku tersebut, catatan-catatan dan argumentasi yang mendukung penilaian peresensi terhadap penulis dan juga berupa rekomendasi untuk pembaca mengenai buku tersebut.

Oleh karena itu, untuk bisa mencapai hal tersebut, selain harus membaca buku yang diresensi dengan saksama dan tuntas, peresensi juga mempunyai kompetensi dan pemahaman terhadap persoalan yang ditulis.

Yang tidak kalah penting, peresensi bisa menuliskannya dengan baik sesuai dengan karakter dan pribadi masing-masing medianya. Setiap media pasti mempunyai karakter dan pribadi masing-masing.♦

Alamat Redaksi Media

Written By Agus M. Irkham on 17 Jul 2009 | 19:35



: agus m. irkham

—dicompail dari berbagai sumber, untuk kesahihannya, silakan dicek ulang terlebih dahulu—


1. ANTARA
Wisma ANTARA Lt 19-20,
Jl Medan Merdeka Selatan No. 17, Jakarta 10110
Telp. (021) 3459173, 3802383, 3812043, 3814268.
Fax. (021) 3840907, 3865577
Email : redaksi@antara.co.id,
letter@antara.co.id,
newsroom@antara.co.id

2. BERITA KOTA
Delta Building Blok A 44-45,
Jl Suryopranoto No 1 – 9 Jakpus 10160.
Telp. (021) 3803115.
Fax. (021) 3808721
Email : berikot@biz.net.id

3. BISNIS INDONESIA
Wisma Bisnis Indonesia, Lt 5 – 8,
Jl. KH Mas Masyur No. 12 A Jakpus 10220
Telp. (021) 57901023.
Fax. (021) 57901025
Email : redaksi@bisnis.co.id.
SMS : 021-70642362

4. DETIK.COM
Aldevco Octagon Building - Lantai 2
Jl. Warung Buncit Raya No.75, Jakarta Selatan 12740
Telp. (021) 794.1177.
Fax. (021) 794.4472
Email : redaksi@staff.detik.com

5. HARIAN TERBIT
Jl. Pulogadung No. 15,
Kawasan Industri Jaktim 13920.
Telp. (021) 4603970.
Fax. (021) 4603970
Email : terbit@harianterbit.com.
Sms Korupsi : 0817-9124842

6. SENTANA
Jl. Rawa Teratai II/6, Kawasan Industri
Pulo Gadung, Jakarta Timur 13930.
Telp. (021) 4618318
Fax. (021) 4609079
Email : redaksi_sentara@plasa.com,
harianumumsentana@yahoo.com

7. INDOPOS
Gedung Graha Pena Indopos,
Jl Kebayoran Lama No 12 Jakarta.
Telp. (021) 53699556.
Fax. (021) 5332234
Email : editor@indpos.co.id,
indopos@jawapos.co.id.
Sms Anti Korupsi : 08121945429

8. INVESTOR DAILY
Jl. Padang No. 21 Manggarai, Jakarta Selatan.
Telp. (021) 8311326-27,
Fax. (021) 8310939
Email : koraninvestor@investor.co.id

9. KOMPAS
Jl. Palmerah Selatan No. 26-28, Jakarta 10270
Telp. (021) 5347710/20/30, 5302200.
Fax. (021) 5492685
Email : kompas@kompas.com

10. KORAN TEMPO
Kebayoran Centre Blok A11-A15,
Jl. Kebayoran Baru Mayestik, Jakarta 12240
Telp. (021) 7255625.
Fax. (021) 7255645, 7255650
Email : koran@tempo.co.id,
interaktif@tempo.co.id

11. MEDIA INDONESIA
Kompleks Deta Kedoya,
Jl. Pilar Raya Kav. A-D, Kedoya Selatan, Jakarta Barat.
Telp. (021) 5812088.
Fax. (021) 5812102, 5812105
Email : redaksi@mediaindonesia.co.id,
Opini : redaksimedia@yahoo.com

12. NON’STOP
Graha Pena, Lt 8 – 9,
Jl. Kebayoran Lama No. 12 Jaksel 12210
Telp. (021) 53699507 ext 20 & 40. Fax. (021) 53671716, 5333156

13. POS KOTA
Jl. Gajahmada No. 100 Jakarta 11180
Telp. (021) 6334702.
Fax. (021) 6340341, 6340252
Email : redaksi@harianposkota.com
14. RAKYAT MERDEKA
Gedung Graha Pena Lt 8,
Jl. Kebayoran Lama No 12 Jaksel 12210Telp.
(021) 53699507.
Fax. (021) 53671716, 5333156
Email : redaksi@rakyatmerdeka.co.id. Sms Rakyat Merdeka : 0818167256 Email : dprm_online@plasa.com

15. BISNIS HARIAN
Telp. (021) 53699534.
Fax. (021) 53699534
Email. : bisnisharian@yahoo.com

16. REPUBLIKA
Jl Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510
Telp. (021) 7803747.
Fax. (021) 7983623 Email : sekretariat@republika.co.id

17. SEPUTAR INDONESIA
Menara Kebon Sirih Lt. 22
,Jl. Kebon Sirih Raya No. 17-19 Jakarta 10340.
Telp. (021) 3929758.
Fax. (021) 3929758, 3927721
Email : redaksi@seputar-indonesia.com. SMS Sindo : 08888010000

18. SINAR HARAPAN
Jl. Raden Saleh No. 1B-1D Cikini, Jakarta Pusat 10430
Telp. (021) 3913880.
Fax. (021) 3153581
Email : redaksi@sinarharapan.co.id,
info@sinarharapan.co.id, opinish@sinarharapan.co.id

19. SUARA KARYA
Jalan Bangka Raya No 2 Kebayoran Baru Jakarta 12720
Telp. (021) 7191352 dan 7192656.
Fax. (021) 71790746 Email : redaksi@suarakarya-online.com

20. SUARA PEMBARUAN
Jl. Dewi Sartika 136 D Jakarta 13630
Telp. (021) 8014077, 8007988.
Fax. (021) 8007262, 8016131
Email : koransp@suarapembaruan.com.
Sms Forum Warga : 0811130165 E-mail : komentarsp@suarapembaruan.com

21. THE JAKARTA POST
Jl. Palmerah Selatan 15, Jakarta 10270, Indonesia
Telp. (021) 5300476, 5300478.
Fax. (021) 5492685
Email : editorial@thejakartapost.com

22. WARTA KOTA
Jl. Hayam Wuruk 122 Jakarta 11180
Telp. (021) 2600818. Fax. (021) 6266023
Email : mailto:warkot@indomedia.com,
Sms Curhat : 081585490313
Sms Unek-Unek : 081514302389
Sms Kate Aye : 081584317364

23. KOMPAS CYBER MEDIA
Fax. (021) 5360678, kcm@kompas.com

24. FORUM KEADILAN
Jl. Palmerah Barat No 23C,
Jakarta Barat 12210
Telp. (021) 53670832.
Fax. (021) 53670832 Email : redaksi@forum.co.id

25. GATRA
Gedung Gatra,
Jl. Kalibata Timur IV No. 15 Jakarta 12740
Telp. (021) 7973535.
Fax. (021) 79196941 – 42 Email : redaksi@gatra.com

26. INVESTOR
Jl. Padang No. 21 Manggarai Jakarta 12970.
Telp. (021) 8280000.
Fax. : (021) 8311329, 83702249
Email : redaksi@investor.co.id

27. KONTAN
Gedung Kontan,
Jl. Kebayoran Lama No 1119 Jakarta 12210.
Telp. (021) 5357636. Fax. (021) 5357633 Email : red@kontan-online.com

28. PROSPEKTIF
Gedung Teja Buana Lt.2,
Jl Menteng Raya No 29 Jakarta 10340
Telp. (021) 3101427. Fax. (021) 3102310 Email : info@prospektif.com



29. SWA
Jl. Taman Tanah Abang III/23
Jakarta Pusat 10160
Telp. 3523839. Fax. (021) 3457338, 3853759
Email : swaredaksi@cbn.net.id

30. TEMPO
Jl. Proklamasi No. 72 Jakarta 10320
Telp. (021) 3916160. Fax. (021) 3921947
Email : tempo@tempo.co.id

31. TRUST
Jl. KH Wahid Hasyim No. 24 Menteng,
Jakarta 10350
Telp. (021) 3146061. Fax. (021) 31464111
Email : redaksi@majalahtrust.com

32. WARTA EKONOMI
Gedung Warta, Jl Kramat IV No. 11 Jakarta 10430
Telp. (021) 3153731. Fax. (021) 3153732
Email : redaksi@wartaekonomi.com

33. LAMPUNG POST
Jl. Soekarno Hatta 108 Rajabasa Bandar Lampung
Email : redaksilampost@yahoo.com

34. RADAR LAMPUNG
Jl. Sultang Agung 18 Kedaton Bandar Lampung
Email : radar@lampung.wasantara.net.id

35. SUARA MERDEKA
Jl. Raya Kaligawe KM.5 Semarang
Email : humainia@yahoo.com

36. WAWASAN
Jl. Pandanaran II / 10 Semarang 50241
Email : redaksi@wawasan.co.id

37. BERNAS(Mimbar Bebas)
Jl. IKIP PGRI Sono SewuYogyakarta 55162
Email : bernasjogja@yahoo.com

38. KEDAULATAN RAKYAT
Jl. P. Mangkubumi 40-42 Yogyakarta
Email : redaksi@kr.co.id

39. JAWA POS
Gedung Graha PenaJl. Ahmad Yani 88 Surabaya 60234
Email : editor@jawapos.co.id

40. PONTIANAK POS
Email : mailto:redaksi@pontianakpost.com

41. PIKIRAN RAKYAT.
Email : mailto:redaksi@pikiran-rakyat.com

42. KALTIM POST
Email : redaksi@kaltimpost.net

43. BALI POST
Email : balipost@indo.net.id

44. SOLO POS
Griya Solo PosJl. Adi Sucipto 190 Solo
Email : redaksi@solopos.net

45. SURYA
Jl. Margorejo Indah D-108 Surabaya
Email : surya1@padinet.com

46. SRIWIJAYA POST
Jl. Jend Basuki Rahmat 1608 BCD Palembang 30129
Email : sripo@mdp.net.id

47. RIAU POS
Jl. Raya Pekanbaru Bangkinang KM 1,5
Email : redaksi@riaupos.co.id

48. BANJARMASIN POST
Gedung Palimasan Jl. Mt. Haryono 143/54Banjarmasin, Kalsel
Email : bpost@indomedia.com

49. MANADO POST
Email : mdopost@mdo.mega.net.id

Teknik Mengutip Tulisan



: agus m. irkham

(Tulisan ini dikutip dari buku Cara Cepat dan Mudah Menulis Buku Ajar Perguruan Tinggi; R. Masri Sareb Putra; MQS Publishing, yang saya comot dari postingan R. Masri Sareb Putra di milis pasarbuku)

"Barang siapa mengutip sebagian atai seluruhnya naskah berjudul xxxx akan berhadapan dengan hukum" demikian pesan SMS yang masuk HP saya, Sabtu lalu. Kaget dengan pesan itu, saya menjawab. "Siapa pun yang mengutip karya saya, demi kepentingan ilmiah dan sesuai etika, dipersilakan! " "Bagaimana kalau naskah kita diterbitkan, lalu yang muncul nama orang lain?" "Itu plagiat!" jawab saya. "Seperti itu yang saya alami." "Kalau sudah jadi buku, saya rela naskah saya dikutip orang," terangnya. Saya merasa terharu. Setelah memutar memori, saya baru ingat pengirim SMS: Rosma. Ya, kawan lama yang hampir 3 tahun tak ketemu.
Naskahnya "Hari-hari Akhir Bung Karno" katanya, dizalimi orang. Kasihan! Namun, lepas dari soal catut-mencatut, tertarik dengan peringatan dininya soal kutip-mengutip, saya berpikir untuk men-sharingkan tentang bagaimana mengutip sumber dalam penulisan naskah dan etikanya.Semoga bermanfaat. Dan berharap rekans2 memberi respons, sebab ihawal ini sensitif dan perlu bagi kita, insan perbukuan.

------------ --------- ---------
Kapan Mengutip Sumber dan Etikanya

Sebagai penulis, kita sebenarnya "hanya" meramu berbagai bahan menjadi sajian yang tidak saja enak rasanya, tapi juga menarik bentuknya. Meski ada (banyak) gagasan orisinal, dalam menulis, mengutip sumber seakan tak dapat didindari. Namun, kutipan yang terlampau banyak, dapat menyeret seorang penulis pada tuduhan ia melakukan plagiat. Sebaliknya, tidak mengutip sama sekali, akan dipertanyakan, apakah seluruh gagasan, informasi, fakta, serta temuan yang dutulisnya benar merupakan gagasan orinisalnya? Mengutip sumber lazim dilakukan penulis pada setiap karya tulis ilmiah, selain buku. Demi menghindari pelanggaran hak cipta, dan dengan mempertimbangkan etika dalam penulisan karya ilmiah, penulis perlu mengetahui kaidah-kaidah mengutip. Kapan seorang penulis harus mengutip sumber? Penulis mengutip sumber ketika:

1.Sumber itu benar-benar diperlukan untuk mendukung gagasan penulis bahwa sebelum itu pernah ada orang lain yang menyampaikan dan atau melempar gagasan serupa.  Membuktikan ihwal yang Anda sampaikan
2.Mengritik atau mengamini premis atau temuan orang lain
3.Membangun argumen/ simpulan Anda sendiri dengan menggunakan premis-premis yang sudah ada sebelumnya.
4.Menggarisbawahi gagasan atau bagian tertentu.

Yang perlu dihindari ialah, kutipan yang tidak menambah makna apa-apa dalam bangun tulisan Anda. Jangan sekali-kali mengutip sumber dengan tujuan untuk `memamerkan' bahwa Anda telah membaca sumber itu, padahal tidak relevan dengan topik yang sedang dibahas. Buang jauh kesombongan intelektual seperti itu, sebab Anda akan membangun citra yang kurang baik. Mengutip sumber langsung memang lazim dan kerap sangat
berguna. Namun, namanya mengutip, jangan sekali-kali melakukan kesalahan ketika mengutip. Kutiplah dengan saksama dan seakurat mungkin. Kalau ternyata terdapat kesalahan dalam teks yang dikutip, penulis dapat memberikan catatan khusus langsung pada teks dengan tanda kurung, lalu diberi catatan `sic.', yakni singkatan dari sicut (Latin) yang berarti : memang demikianlah aslinya (tercetak). Atau, sesuai petunjuk dari Depdiknas-Pusat Bahasa seperti termuat dalam buku Pedoman Umum EYD, berikan tanda siku [ ] mengapit kutipan yang
ternyata salah itu.

Contoh teks asli:
Menteri Tenaga Kera di Jakarta mengatakan bahwa para buruh akan dinaikkan upahnya dua kali lipat tahun depan.

Sebagai penulis, Anda menyaksikan, terdapat kesalahan fatal pada kata `Kera'. Seharusnya, Kerja. Jadi, tercetak kurang huruf r. Anda mengutip, namun tak mau konyol dengan melakukan kesalahan
serupa. Bagaimana caranya?

Cara pertama
Menteri Tenaga Ker[j]a di Jakarta mengatakan bahwa para buruh akan
dinaikkan upahnya dua kali lipat tahun depan.

Cara kedua
Menteri Tenaga Kera (sic.) di Jakarta mengatakan bahwa para buruh akan dinaikkan upahnya dua kali lipat tahun depan.

Cara mengutip
Dalam dunia ilmiah, mengutip karya, temuan, hasil penelitian, atau gagasan orang lain –terutama pakar— tidak diharamkan. Bahkan, untuk sebagian akademisi, kutipan itu sangat vital, asalkan jujur pada sumber.
Apa kompensasi bagi orang yang karya ciptanya dikutip? Kompensasinya ialah, dengan dikutipnya karya, temuan, hasil penelitian, atau gagasan tadi, pencetusnya akan jadi populer dan dikenal. Dengan dikenal, ia akan mendapat efek domino. Ini namanya kontraproduktif, atau win-win solution. Dalam mengutip, terdapat dua cara yang lazim digunakan yakni:
1) Sistem Harvard
2) Sistem numerik

Yang paling disukai dalam penulisan karya ilmiah ialah cara mengutip dengan sistem Harvard. Selain paling umum, sistem mengutip ala Harvard juga gampang, selain memudahkan penulis di dalam menggunakan dan menelusuri kembali sumber atau rujukan. Sistem Harvard sendiri mengenal dua pola : (1) kutipan yang
terintegrasi dalam teks dan (2) rujukan bibliografis.

Kutipan yang terintegrasi atau tekstual Untuk kutipan ini, biasanya halaman sumber dicantumkan, sebab
penulis merujuk langsung pada sumber yang dikutip.

Contoh 1:
Ada banyak ragam lead. Masing-masing penulis buku jarang menyepakati jumlahnya, namun mereka umumnya sepakat bahwa lead berfungsi mengantar pembaca memasuki sebuah tulisan. Dengan membaca lead, orang sudah mafhum inti tulisan. Seperti ditegaskan R. Masri Sareb Putra (2006):
Dalam dunia jurnalistik, lead juga disebut sebagai "teras berita". Pada sebuah rumah, teras selalu berada di bagian depan. Fungsinya sebagai ruang khusus sebelum memasuki ruang utama (inti) (hlm. 58).

Contoh 2:
Di era multimedia, banyak pakar mencemaskan semakin sedikitnya orang menggunakan kertas sebagai media komunikasi. Namun, R. Masri Sareb Putra (2007) melihat sebaliknya. Kertas dan media digital tidak saling meniadakan, justru saling melengkapi. Tidak ada media lain, selain kertas, yang dapat menggantikan proses pendidikan, utamanya belajar-mengajar. Pendidikan hampir selalu berkaitan dengan proses dan kegiatan cetak-mencetak. Karena itu, pertumbuhan media akan dibarenngi pula dengan semakin dihargainya profesi penulis. Bahkan, prospeknya sangat cerah.

Karena pemilik copy right (sumber) telah disebut dan juga tahunnya, maka dua hal ini tidak menjadi persoalan. Namun, pembaca tentu penasaran, minimal bertanya-tanya, sumber yang dikutip? Apa judul sumber yang dikutip, dalam bentuk publikasi apa, apa penerbitnya? Kalau sumber yang dikutip berupa koran dan majalah, niscaya jumlah halamannya tidak sampai 58. Jurnal mungkin halamannya sampai 58. Tapi yang paling mungkin adalah buku. Bagaimana mengacu ke sumber? Untuk memudahkan pembaca, penulis perlu mencantumkan sumber yang dukutipnya lengkap dalam Daftar Pustaka. Dengan mencantumkannya dalam Daftar Pustaka, maka pembaca dapat menyelisik sumber yang dikutip, jika memerlukannya. Bagaimana dengan kutipan pada contoh 2, di mana sumber tidak dicantumkan? Dilihat dari isinya, memang tidak perlu mencantumkan sumber, sebab sesungguhnya itu bukan kutipan teks, namun kutipan opini/gagasan/ hasil temuan dari nara sumber. Penulis telah meringkasnya dengan bahasanya sendiri, ia menulis intisari saja dari sumber yang ia petik. Cara mengacu sumber asli, juga sama dengan contoh 1, yakni melacaknya dari Daftar Pustaka. Ternyata, setelah mencari, akhirnya contoh kutipan kedua itu dipetik dari buku Menulis: Meningkatkan dan Menjual Kecerdasan Verbal-Lingustik Anda, penerbit Dioma, 2005, hlm. 115. Yang sama dari contoh 1 dan 2, kutipan yang terintegrasi perlu dibedakan body text (asli tulisan anda) dengan kutipan. Agar berbeda, dapat keduanya menggunakan point huruf (font size) yang berbeda, atau dengan jenis huruf (tipologi) yang berbeda. Selain kedua contoh itu, kita masih sering menemukan berbagai variasi lain dari cara mengutip model Harvard. Misalnya,

Dalam sebuah artikel yang menghebohkan, Anna Wang (2006) melaporkan mengenai perilaku seks bebas di sebuah kampus antah berantah. Belakangan, ia malah dengan gamblang menunjuk tempat-tempat yang biasanya dipakai kencan oleh para insan akademis muda itu (Anna Wang 2007a). Ia mengkhawatirkan, jika praktik-praktik seks bebas di kampus seperti itu terus dilakukan, maka negara entah berantah tidak akan bisa menghasilkan manusia-manusia yang terampil dan siap bekerja, namun hanya bisa menghasilkan ` manusia-manusia yang siap pakai saja' (Anna Wang 2007b).

Dalam sebuah artikel yang menghebohkan, Anna Wang melaporkan mengenai perilaku seks bebas di sebuah kampus antah berantah. Belakangan, ia malah dengan gamblang menunjuk tempat-tempat yang biasanya dipakai kencan oleh para insan akademis muda itu . Ia mengkhawatirkan, jika praktik-praktik seks bebas di kampus seperti itu terus dilakukan, maka negara entah berantah tidak akan bisa menghasilkan manusia-manusia yang terampil dan siap bekerja, namun hanya bisa menghasilkan ` manusia-manusia yang siap pakai
saja' (Anna Wang, 2006, 2007a, 2007b).

Dalam tulisannya di sebuah milis baru-baru ini, Mula Harahap (2007) mengisahkan asal mula onani. Ia mengangkat hikayat dari Kitab Perjanjian Lama, dengan menyebut Onan sebagai asal mula kata onani
dibentuk.

Sebuah riset baru-baru ini (James Pennebaker 2007) menemukan bahwa menulis banyak sekali manfaatnya, antara lain menulis dapat menghilangkan trauma-trauma masa lalu.
Parakitri T. Simbolon (2006) mencatat terdapat 16 ragam lead.

Pemimpin pada hakikatnya adalah pelayan, yang harus memerhatikan semua aspek anak buahnya. Tapi betapa sulit mempraktikkan hal itu, sebab selama ini sudah terlanjur berkembang asumsi, pemimpin justru yang harus dilayani. Selain itu,ada asumsi, melayani itu pekerjaan hina. Padahal, ibarat main badminton atau voli, siapa yang banyak melakukan servis justru dia yang menang. Pemimpin masa depan harus punya jiwa dan semangat melayani (lihat misalnya The Servant Leader, Robert P. Neuschel, Kellog, 2006).

Studi-studi mutakhir mengenai komunikasi sampai pada kesimpulan, setiap bangsa memiliki persepsi masing-masing terhadap sebuah perilaku atau simbol yang sama (lihat misalnya Carté dan Fox
2006).

Dalam pidatonya berjuluk `Jas Merah', atau jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah, Soekarno telah mengingatkan agar manusia jangan pernah melupakan masa lalu. Sebab, barang siapa yang tidak belajar dari sejarah, akan dikutuk oleh sejarah. Dalam studi mengenai pengalaman sejarah, sebagaimana diingatkan Soekarno, St. Stanislaus Lamberto di Kompas (2007) bahkan mengatakan sejarah adalah guru (historia docet).

Dalam studi mengenai efek atau pengaruh penonton Anfield, psikolog bernama Kampret Terbang Tinggi (2007, hlm. 113) menyebut bahwa penonton di stadion Anfield adalah pemain ke-12 pasukan merah Liverpool. Tak mengherankan, jika bermain di kandang, Liverpool hampir selalu menang. Sebab, mereka berhadapan dengan 11 pemain lawan.

Itu contoh dan sejumlah variasi model kutipan Harvard. Memang masih menyisakan perebatan, seperti cara mengutip ala Harvard mengurangi kelancaran (dan kenyamanan) membaca. Oleh karena itu, penulis hendaknya mengurangi jumlah rujukan tekstual yang dipetik. Lagi pula, akan muncul kecurigaan: benarkah penulis membaca seluruh sumber yang dikutip? Bukankah litani yang dikutip itu bukan ihwal yang bermaksud memamerkan atau untuk gagah-gagahan? Dalam mengutip gaya Harvard, hindari kutipan seperti berikut ini.

Tidak ada kesepakatan soal definisi komunikasi (Laswell, 1937; Little John 2005; Rupert Murdoch 1998; Astrid Susanto 2001; Brian Clegg 2001; Jamiludin Ritonga 2005; Wiryono, 2005; Dani Vardiansyah 2005; Lidia Evelina 2006; Masri Sareb Putra 2006; Arifin Harahap 2006; Zaenal Abidin 2006; Emrus Sihombing 2006; Ati Cahayani 2006; Jenni Purba 2006; Jalaludin Rahmat 2006; Berta Sri Eko 2007; Carté dan Fox 2006; Rozikis dan Ambulu 2007; Thomson 2007; Kukuh Prihmanto 2007; Ande-ande Lumut 2007, Djoko Bodo 2007; Lita Mawarni 2007; Dian Budiargo et at. 2006, 2007). Dengan ada begitu banyak definisi komunikasi, maka justru pengertian komunikasi jadi simpang siur. Dari kesepakatan para pakar untuk tidak bersepakat soal definisi komunikasi, dapat disimpulkan, upaya membangun komunikasi untuk menyepakai definisi komunikasi mengalami diskomuninkasi. Dengan demikian, terjadikah komunikasi ketika membahas definisi komunikasi, sebab dari awal para pakar sudah mengalami diskomunikasi?

Kutipan dan bagaimana mengatur rujukan bibliografis Rujukan berasal dari kata "rujuk" yang berarti: acuan. Makna kata ini sepadan dengan referensi (to refer = mengacu). Sedangkan bibliografi berasal dari kat Yunani biblos atau ta biblia (jamak) yang berarti buku dan grafein yang berarti tulisan atau ilmu. Jadi, bibliografi ialah buku yang di dalamnya terkandung tulisan dan atau gambar. Rujukan dalam bentuk tulisan, baik cetak maupun etektronik, dapat ditulis berdasarkan kategori medianya seperti contoh berikut.

1) Mengutip dan mengatur rujukan dari buku
Carté dan Fox (2004) Bridging the Culture Gap: A Practical Guide to International Business Communication, London, Kogan Page.
2) Mengutip dari koran, majalah, jurnal
Vanda Gunawan (2007) "Hati-hati dengan Kambing Guling" Nirmala, edisi Mei, hlm. 24.
3) Mengutip dari sumber internet Abdul Aziz, Tunku (diakaes 10 Mei 2007), Transparency
International (Online) http://www.tramapar ency.org (http://transparency mauritius. intnet.mu/ cpiwhat2. htm)

Masih menjadi bahan perdebatan, manakah pola (gaya) yang paling benar? Bukan soal benar tidaknya, tapi soal praktis atau kelaziman dan mana yang paling banyak digunakan orang. Umumnya, kalangan akademis menggunakan gaya Harvard, sebab dibandingkan dengan yang dianjurkan Pusat Bahahasa, model Harvard masih lebih sederhana dan mudah. Akan halnya, apakah nama penulis harus dibalik ataukah tidak, masih perlu diperdebatkan. Mengapa umumnya nama penulis luar, terutama Barat, dibalik? Ini karena mereka mengenal nama kecil, nama keluarga, dan nama diri. Di Indonesia, kecuali bangsa tertentu, tidak mengenal seperti ini. Maka, apakah nama mesti dibalik atau tidak dalam tata krama penulisan sumber di Indonesia, sangat
tergantung konteks. Sebagai contoh, inilah cara mengutip bibliografi seperti dianjurkan Depdiknas-Pusat Bahasa.

Partao, Zainal Abidin. 2006. Tekik Lobi dan Diplomasi untuk Insan Public Relations. Jakarta : PT Indeks.

Debat soal ini, pernah terjadi pada pada forum ilmiah ketika FKGUI menyelenggarakan teknik penulisan buku ajar perguruan tinggi tahun 2006. Debat dan adu argumentasi akhirnya sampai pada simpulan, cara mana yang dipilih, tidak persoalan. Yang penting, di dalam mengutip, data yang dibutuhkan pembaca lengkap. Kalau data tidak lengkap, maka menggunakan cara mengutip yang dirasa paling hebat pun jadi tidak banyak faedahnya.♦

Panduan Dasar Menulis Esai



: agus m. irkham

hasil copas (bukan tulisan saya).
sumber tulisan tidak terlacak

Sebuah esai bisa memiliki beberapa tujuan, tapi memiliki struktur dasar yang sama. Kamu bisa menulis esai untuk mempertahankan sudut pandang tertentu atau menerangkan langkah-langkah penting untuk melengkapi tugas. Dengan kata lain, esai kamu akan memiliki format dasar sama apa pun tujuannya. Jika kamu mengikuti beberapa langkah mudah ini, kamu akan menemukan bahwa esai itu hampir-hampir menulis sendiri. Kamu akan hanya bertanggung jawab pada menyediakan ide yang merupakan bagian penting dalam esai.

Langkah-langkah sederhana ini akan menuntunmu dalam proses penulisan esai:

1. Pilih Topik untuk Esai
a. Topik Ditentukan
Kamu tidak harus memilih topik. Jika begitu, kamu masih belum siap untuk menuju langkah selanjutnya.

Pikirkanlah tentang tipe tulisan yang akan dihasilkan. Apakah itu berupa tinjauan umum atau analisis spesifik atas suatu topik? Jika tinjauan umum, kamu bisa melangkah lebih lanjut. Jika harus berupa analisis, pastikan topik kamu sudah spesifik. Bila terlalu umum, kamu harus memilih subtopik yang lebih sempit untuk dibicarakan.

Sebagai contoh, topik "Kenya" terlalu umum. Kalau tulisan kamu hanya sebuah tinjauan umum, ini sudah mencukupi. Bila tugas kamu adalah menulis analisis spesifik, topik ini terlalu umum. Kamu harus mempersempit menjadi seperti "politik di Kenya" atau "Kebudayaan Kenya".

Setelah menemukan topik yang cocok, kamu bisa menuju ke langkah selanjutnya.

b. Topik Tidak Ditentukan
Jika topik tidak ditentukan, semua terserah padamu. Kadang-kadang tugas untuk memulai menjadi sangat menegangkan. Kenyataannya, ini berarti bahwa kamu bebas memilih topik yang menarik, yang sering kali akan membuat esai kamu lebih kuat.

Paparkan Tujuanmu
Satu hal yang pertama kali harus kamu lakukan adalah memikirkan tujuan esai yang akan kamu tulis. Untuk memengaruhi orang agar percaya seperti halnya kamu, untuk menerangkan kepada orang-orang cara menyelesaikan tugas tertentu, untuk mengajari orang tentang seseorang, tempat, sesuatu atau ide, atau lainnya? Apa pun topik yang kamu pilih harus sesuai dengan tujuan itu.

Beberkan Subjek yang Menarik
Sekali kamu sudah memutuskan tujuan esai kamu, tuliskan subjek-subjek yang menarik bagimu. Tak masalah apa tujuan esai kamu, topik dalam jumlah banyak akan pas.
Jika kamu memiliki kesulitan menemukan subjek, mulailah dengan melihat ke sekeliling. Apakah ada sesuatu yang menarik di sekelilingmu? Pikirkan tentang hidup kamu. Apa kesibukan terbesarmu? Barangkali itu bisa jadi topik menarik. Jangan evaluasi subjeknya; tuliskan saja semua yang terlintas di kepala.

Evaluasi Masing-Masing Topik yang Potensial
Jika kamu bisa memikirkan setidaknya sedikit topik yang bisa cocok, kamu harus mempertimbangkannya satu persatu. Pikirkan tentang perasaanmu atas topik itu. Jika kamu harus mendidik, pastikan itu subjek yang kamu ketahui benar. Jika harus memengaruhi, pastikan dengan subjek itu kamu bisa membuatnya menarik. Tentu saja, faktor yang paling penting dalam memilih topik adalah jumlah ide yang kamu miliki dari topik tersebut.

Bahkan jika tak ada subjek yang menurutmu akan menarik, usahakan pilih salah satu. Barangkali itu akan bisa menjadi topik yang menarik dibanding yang kamu kira.

Sebelum siap melanjutkan ke proses menulis esai, lihat sekali lagi topik yang telah kamu pilih. Pikirkan tipe tulisan yang akan kamu hasilkan. Apakah itu berupa tinjauan umum atau analisis spesifik? Jika berupa tinjauan umum, kamu sudah siap melangkah ke tahap berikutnya. Jika harus berupa analisis spesifik, pastikan topik kamu sudah cukup spesifik. Jika masih terlalu umum, kamu harus memilih subtopik yang lebih sempit untuk didiskusikan.

Setelah menemukan topik yang cocok, kamu bisa menuju ke langkah selanjutnya.

2. Kelola Ide Kamu
Tujuan dari outline atau diagram adalah untuk meletakkan ide-ide kamu tentang topik ke atas kertas dalam bentuk yang sudah lumayan tertata. Struktur yang kamu buat di sini mungkin masih berubah sebelum esai tsb lengkap sehingga jangan terlalu merasa menderita karenanya.

Putuskan kamu akan memilih struktur outline yang pendek-pendek atau yang lebih mengalir. Jika kamu memulai salah satunya dan ternyata tidak cocok denganmu, kamu bisa memulai dengan yang lain.

Diagram
1.Mulai diagram kamu dengan lingkaran atau garis horisontal atau bentuk apa pun yang kamu suka di tengah-tengah halaman.
2.Di dalam bentuk atau di atas garis, tuliskan topikmu.
3.Dari tengah-tengah bentuk atau garis kamu, gambar tiga atau empat garis keluar halaman. Pastikan benar-benar keluar dari tepi halaman.
4.Pada masing-masing akhir garis, gambar lingkaran atau garis horisontal atau apa pun yang sudah kamu gambar di tengah-tengah halaman.
5.Di dalam masing-masing bentuk atau garis, tulis ide pokok yang kamu punya tentang topik kamu, atau tujuan utama yang ingin kamu buat.
6.Jika kamu berusaha untuk memengaruhi, kamu ingin menuliskan argumen-argumen terbaik.
7.Jika kamu berusaha menjelaskan sebuah proses, kamu ingin menulis langkah-langkah yang harus diikuti. Kamu akan butuh mengelompokkan ini ke dalam kategori-kategori.
8.Jika kamu memiliki masalah dalam mengelompokkan langkah-langkah ke dalam kategori, coba pergunakan Awal, Tengah, dam Akhir.
9.Jika kamu berusaha untuk memberi informasi, kamu ingin menuliskan kategori utama ke dalam informasi yang bisa dibagi-bagi.
10.Dari masing-masing ide pokok, gambar tiga atau empat garis keluar dari halaman.
11.Pada bagian akhir dari masing-masing garis tsb, gambar lingkaran atau garis horisontal lain atau apa pun yang kamu gambar di bagian tengah halaman.
12.Di dalam masing-masing bentuk atau garis, tuliskan fakta atau informasi yang mendukung ide pokok.
13.Begitu selesai, kamu sudah mempunyai struktur dasar untuk esai kamu dan siap untuk dilanjutkan.

Outline
1.Mulailah outline kamu dengan menuliskan topik pada bagian atas halaman.
2.Selanjutnya, tuliskan angka Romawi I, II, dan III menurun di tepi halaman.
3.Pada masing-masing angka Romawi tuliskan ide-ide pokok yang kamu punya tentang topik kamu, atau poin utama yang ingin kamu buat.
4.Jika kamu berusaha untuk memengaruhi, kamu ingin menuliskan argumen-argumen terbaik.
5.Jika kamu berusaha menjelaskan sebuah proses, kamu ingin menulis langkah-langkah yang harus diikuti. Kamu akan butuh mengelompokkan ini ke dalam kategori-kategori. Jika kamu memiliki masalah dalam mengelompokkan langkah-langkah ke dalam kategori, coba pergunakan Awal, Tengah, dam Akhir.
6.Jika kamu berusaha untuk memberi informasi, kamu ingin menuliskan kategori utama ke dalam informasi yang bisa dibagi-bagi.
7.Di bawah masing-masing angka Romawi, tuliskan A, B, C menurun di samping halaman.
8.Lalu di masing-masing huruf tsb tuliskan fakta atau informasi yang mendukung ide pokok

Setelah selesai, kamu sudah memiliki struktur dasar untuk esai kamu dan siap untuk melanjutkan.♦

Rahasia Agar Artikel dimuat KOMPAS

Written By Agus M. Irkham on 13 Jul 2009 | 19:14




: agus m. irkham

Sudah kali kedua saya diundang KOMPAS (Jawa Tengah) dalam acara ”Buka Bersama dan Temu Penulis Opini KOMPAS”. Yang pertama terjadi di bulan ramadhan 2007, yang kedua ramadhan 2008. Sayang, hanya di tahun 2007 saya bisa memenuhi undangan tersebut. Ada banyak yang saya dapat dalam pertemuan itu. Selain merchandiser khas KOMPAS, mulai dari topi, pulpen, kaos, dan tas jinjing, lebih penting dari itu adalah hadirnya Tonny D. Widiastono, wartawan senior KOMPAS sekaligus redaktur rubrik Opini KOMPAS (Nasional).

Secara khusus, mas Tonny menyiapkan semacam makalah yang berisi tentang ”bocoran” seluk-seluk penulisan opini di KOMPAS. Untuk tujuan berbagi dan bertumbuh buat sesama penulis, makalah tersebut akan saya tulis ulang (cuplik), mengingat di dalam makalah itu mengadung segi-segi ”rahasia” agar opini Anda (kita) di muat. Apalagi selama ini di kalangan (calon) penulis, ada hukum tidak tertulis—pemuatan KOMPAS menjadi semacam standar untuk dapat disebut penulis.

Menulis Artikel
Oleh. Tonny D. Widiastono

Artikel, merupakan pergulatan pemikiran dari seorang ahli atas masalah yang sedang berkembang di masyarakat. Harian KOMPAS, merasa perlu menyediakan ruang tersendiri guna menampung pergulatan pemikiran yang muncul di masyarakat, dan diharapkan bisa berdampak bagi yang lain. Maka, KOMPAS, menempatkan artikel sebagai intellectual exercise (asah intelektual). Rubrik artikel KOMPAS, bukan dimaksudkan untuk mencari nama, pun bukan dimaksudkan untuk (maaf) mencari uang. Maka artikel yang dimuat harian KOMPAS, diharpkan ditulis oleh ahlinya. Untuk itu, kepada para penulis, diharpkan juga mengirimkan riwayat hidup dan keahlian atau kompetensinya. Dengan demikian, KOMPAS bisa melihat dengan jelas, kompetensi seseorang ketika menuliskan artikelnya.

Menulis Artikel
TEMA
(1)Pertama-tama, temukan yang akan ditulis. Amat diharpkan tema yang akan diulas terkait dengan kompetensi yang dimiliki penulis. Perumusan masalah atau tema (sebelum mengetik) itu penting. Dari perumusan tema atau masalah itu, akan kehilatan rangkaian gagasan yang tertuang dalam judul serta kalimat-kalimat pada alinea awal. Amat diharpkan tema berkait dengan masalah yang sedang menjadi pembicaraan hangat di masyarakat.

(2)Referensi: Referensi amat diperlukan guna mendukung tema yang kan diluncurkan.
(3)Bahasa: gunakanlah bahasa yang sederhana dan logis. Sedapat mungkin hindari pemakaian bahasa Inggris yang terlalu banyak.

PENULISAN
(1)Bagaimana memasukkan/merangkum referensi yang ada ke dalam tulisan, dan bagaimana meramunya. Jangan sampai ide terasa melompat-lompat.

(2)Dalam menulis, gunakankaidah-kaidah bahasa Indonesia yang benar, termasuk istilah-istilah, idiom, pemakaian bahasa asing dan sebagainya.

BACA KEMBALI
Seusai menulis artikel, baca kembali isi seluruh artikel, baru dikirim. Pembacaan ulang itu penting, guna menghindari loncatan gagasan, menemukan kalimat yang tidak ”jalan/nyambung” etc.
Apakah penggunaan bahasa asing sudah ditulis dengan benar?

KRITERIA UMUM ARTIKEL KOMPAS
(1)Artikel harus ali, bukan plagiasi, bukan saduran, bukan terjemahan, bukan sekadar kompilasi, pun bukan sekadar rangkuman pendapat/buku orang lain. Apabila sebuah artikel terbukti meruapakan plagiasi, maka penulis bersangkutan akan ”di black-list” paling cepat satu tahun.

(2)Belum pernah dimuat di media tau penerbitan lain. Selain itu, artikel yang sama, dalam waktu bersamaan dikirim ke media atau penerbit lain. Kasus ini sering terjadi. Penulis mengirim artikel yang sama ke media lain. Ada semacam ”kebanggaan” bila artikel yang sama dari penulis yang sama bisa dimuat di banyak media. Tetapi bagi KOMPAS yang menilai artikel sebagai bagian dari intellectual exercises, cara-cara seperti itu tidak bisa dibenarkan. Kepada mereka, KOMPAS akan memberi ”hadiah” grounded selama tiga bulan, enam bulan, sembilan bulan, setahun, atau selamanya.

(3)Topik yang diuraikan atau dibahas merupakan sesuatu yang aktual, relevan, dan )sedang) menjadi) pembicaraan hangat di masyarakat.

(4)Substansi yang dibahas menyangkut kepentingan umum, bukan kepentingan komunitas tertentu. Hal ini dilandasi pengertian umum, Harian KOMPAS adalah media umum, bukan koran partai, bukan majalah vak atau jurnal dari disiplin ilmu tertentu.

(5)Artikel mengandung hal baru yang belum pernah dikemukakan penulis lain, baik informasi, pandangan, pencerahan, pendekatan, saran, maupun solusinya.

(6)Uraian yang disajikan bisa membuka pemahaman atau pemaknaan baru maupun inspirasi atas suaut masalah atau fenomena yang berkembang di masyarakat.

(7)Artikel tidak bole ditulis berdua atau lebih. Mengapa? Jangan sampai penulis yang satu menjadi lokomotif bagi penulis yang lain.

(8)Penyajian artikel menggunakan bahasa populer/luwes, mudah dipahami pembaca yang heterogen dengan latar belakang pendidikan beragam.

(9)Penyajian artikel tidak berkepanjangan. Panjang tulisan untuk:

ARTIKEL A, panjang 5.000-5.300 character with space (sekitar 700 kata)
ARTIKEL B, panjang 4.500-5000 character wit space (sekitar 600 kata)
ARTIKEL C, panjang 4.000-4.500 character with space (sekitar 500 kata)

Mengapa artikel ditolak?

(1)Artikel ditolak bila topik atau tema yang disajikan tidak aktual.
(2)Artikel ditolak bila penyajiannya berkepanjangan (melebihi ketentuan)
(3)Artikel ditolak bila cakupan bahasan terlalu mikro atau lokal.
(4)Artikel ditolak bila konteks yang disajikan kurang jelas.
(5)Artikel ditolak bila bahasa yang digunakan ”terlalu tinggi”, terlalu ilmiah, terllau akademis, kurang populer dan sulit ditangkap masyarakat umum.
(6)Artikel ditolak bila uraiannya terlalu sumir.
(7)Artikel ditolak bila penyajian dan gaya tulisannya seperti menulis pidato, menulis makalah, atau menulis kuliah.
(8)Artikel ditolak bila sumber kutipan yang diambil, kurang jelas.
(9)Artikel ditolak bila terlalu banyak kutipan, sehingga artikel hanya berisi kumpulan kutipan dan tidak memunculkan pendapatnya sendiri.
(10)Artikel ditolak bila alur uraian tidak runut, ide meloncat-loncat

PENGIRIMAN ARTIKEL
Pengiriman artikel bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Namun yang amat penting adalah, para penulis pemula hendaknya menyertakan riwayat hidup berikut latar belakang pendidikannya, ketika mengirimkan artikelnya.

Pengiriman artikel bisa dilakukan melalui:
(1)Melalui pos
(2)Melalui faksimile (021-5486085 atau 021-5483581)
(3)Melalui e-mail ke opini@kompas.com atau opini@kompas.co.id

Meski demikian, kami lebih suka menerima kiriman artikel melalui e-mail. Alasannya sederhana saja. Bila artikel dikirim melalui pos atau faksimile (berbentuk hard copy), kami harus menulis ulang agar bisa disesuaikan dengan sistem komputer yang ada pada kami. Karena ada keharusan mengetik ulang, maka terbuka kemungkinan terjadinya salah ketik, atau loncatan-loncatan dalam pembacaan selama pengetikan. ♦

7 Habits Membiakkan Otot Menulis

Written By Agus M. Irkham on 20 May 2009 | 06:13



: agus m. Irkham

1. Membaca
Baca buku mampu mencerdaskan bangsa. Apa iya? Katakanlah tesis ini benar. Artinya, Mbok Sri penjual nasi pecel, Pak Ridwan petani penggarap, Mas Karyo penjual batik keliling adalah manusia-manusia yang tidak cerdas--untuk tidak mengatakan bodoh. Sebab, mereka jarang bahkan tidak pernah membaca buku.

Eiit, nanti dulu. Kita jangan buru-buru mengambil kesimpulan. Bukankah membaca bisa berarti tekstual dan kontekstual? Membaca tekstual berarti membaca dalam arti sesungguhnya yaitu membaca media teks. Sedangkan membaca secara kontekstual berarti memahami dan memberi makna terhadap suatu kenyataan hidup. Artinya, seseorang yang jarang membaca teks, tetap masih mempunyai kesempatan menjadi cerdas.

Meski demikian, bukan berarti kita sah-sah saja mencueki buku. Buku bukan hanya merupakan jendela dunia, tetapi di dalam buku ada hidup dan kehidupan itu sendiri. Membaca buku bukan kegiatan yang berjalan sendiri atau ditambahkan tapi berjalan berbarengan. Menurut Karlina Supelli (1999), membaca bukan kegiatan sampingan, melainkan berjalin dengan makna teks. Para pembaca adalah pencipta suatu aktivitas bersama yang oleh Gadamer disebut peleburan cakrawala.

“Mernbaca tidak Iagi berarti sekadar bisa membedakan antara huruf m dan n, dan menulis tidak lagi berarti sekadar bisa rnembubuhkan titik (.) pada huruf i. Membaca hendaknya mencakup kemampuan yang semakin tinggi untuk memahami dan menghargai berbagai macam karangan.” (Damono, 1996)

Membaca memungkinkan terbentuknya persimpangan antara dunia kehidupan dengan pembaca dengan dunia teks. Pembaca akan membuat tafsir sendiri, menerapkan makna tekstual ke dalam kehidupan konkretnya. Cara membaca yang demikian akan menuntun kita mendapatkan nilai-nilai baru serta masalah-masalah yang menunggu penyelesaian segera.
Mestinya setelah membaca buku harus ‘ditabrakkan’ dengan kenyataan yang ada.

Keberanian mengambil posisi vis a vis demikian dapat menghasilkan sintesa. Sintesa ini merupakan perspektif ketika melihat kenyataan, sekaligus dapat dijadikan guidance kepada pembaca dalam mengambil sikap.
Menurut Wahib (1981), cara membaca yang demikian akan mampu membentuk pendapat sendiri dan tidak sekadar mengikuti pendapat orang atau hanya sekedar menjadi reservoir ilmu.

Perpustakaan
Membaca buku tidak harus diartikan dengan membeli. Berbahagialah Anda yang tinggal di wilayah yang mempunyai fasilitas perpustakaan umum yang cukup lengkap koleksinya. Segeralah mendaftar untuk menjadi anggota.
Dengan menjadi anggota perpustakaan, paling tidak Anda sudah masuk ke dalam lingkungan yang tepat—aktivitas tulis menulis. Di perpustakaan, Anda dapat membaca sepuas hati, dengan pilihan tema dan jenis buku beragam. Tidak perlu membeli atau berdiri berjam-jam seperti ketika di toko buku yang membuat kaki Anda pegal-pegal.

Apalagi jika perpustakaan di wilayah Anda menyediakan fasilitas komputer dan data buku secara online, memudahkan Anda mencari judul buku yang dikehendaki, sekaligus dapat menulis. Keuntungan lain? Anda sangat mungkin bertambah teman baru, syukur-syukur ketemu orang yang punya antusiasme sama dalam bidang kepenulisan. Bukan tidak mungkin, bertemu dengan redaktur media atau editor sebuah penerbitan.

Syukur-syukur, perpustakaan dikelola dengan baik tidak sekadar melayani peminjaman tapi juga mengadakan event perbukuan. Lomba karya tulis ilmiah, lomba penulisan artikel, merensi buku atau acara ketemu penulis. Berbagai kegiatan tersebut ini dapat Anda jadikan sarana melatih kemampuan menulis dan menganalisis. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui bukan?

Selain perpustakaan, di mana lagi ya kita bisa membaca buku tanpa harus membeli. Ahaa! Toko buku.

Toko buku
Saat mengunjungi toko buku, coba tanyakan langsung pada mas atau mbak yang berada di meja informasi. Apa saja buku-buku terbaru dalam minggu atau bulan ini. Kenapa buku baru? Karena buku-buku baru ini bisa menjadi jawaban pertanyaan: wacana apa yang tengah berkembang di masyarakat?

Tahu perkembangan buku berarti Anda punya kelebihan satu langkah—tahu perkembangan situasi pada skala regional, nasional maupun global. Jika Anda termasuk orang yang mempunyai daya lupa tajam, silakan dicatat (dengan sembunyi-sembunyi) tema besarnya apa. Siapa tahu bisa digunakan untuk penambahan bacaan atau pengayaan materi artikel yang akan Anda tulis.

Agar tidak tulalit, alangkah baiknya jika Anda juga membaca media teks non buku. Seperti jurnal, koran, dan majalah. Apalagi kalau dikaitkan dengan kegiatan aktivitas menulis artikel.
Salah satu kekuatan tema tulisan artikel adalah baru tidaknya atau dekat tidaknya saat berita (pemantik artikel) terjadi. Terlambat sedikit saja tulisan Anda-sudah out of date. Bagaimana caranya agar Anda tidak selalu terlambat mendapatkan informasi?

Satu-satunya cara ya selalu terjaga akan perkembangan situasi. Buka mata, buka telinga, buka hati—membuat Anda tidak akan pernah kehabisan tema. Artikel senantiasa up to date, berarti Anda telah menjadi intelligent yang berkualitas. Bahkan Anda tahu apa yang akan terjadi di masa depan layaknya Dady Corbuzier mengetahui headline yang bakal muncul di koran. Atau si futurolog kondang, Alfin Toffler

Membaca koran, majalah, terbuka terhadap berbagai informasi-membantu Anda menjadi futurolog berupa sense of news yang tajam.

Jurnal
Jurnal juga dapat memberikan contoh pada kita bagaimana menulis secara sistematis sekaligus memberikan argumentasi yang bersifat rasional dan ilmiah. Biasanya jurnal berisi publikasi hasil penelitian baik kuantitatif maupun kualitatif.

Dari jurnal kita dapat belajar bagaimana menyusun, menggabungkan antara data, fakta, pijakan teori, ‘pisau’ analisis yang akan digunakan untuk ‘membedah’ serta analisis itu sendiri. Menjadi satu kesatuan yang utuh. Sekaligus dapat menyajikan dalam bentuk tulisan yang sarat informasi, enak dibaca, tidak membuat dahi berkerut.

Karya Sastra
Dengan membaca karya sastra, entah itu novel, cerpen, puisi, prosa, kritik sastra dan sebagainya, kita akan banyak mendapat perbendaharaan ragam dan rasa bahasa. Sehingga rasa kebahasaan kita pun akan semakin terasah. Kebiasaan membaca sastra akan membawa karakteristik sastra yang cair, kaya bahasa, ekspresif, mudah dicerna, masuk ke dalam artikel yang Anda tulis. Sehingga artikel Anda mempunyai tingkat keterbacaan tang tinggi (readable), Meskipun artikel yang ditulis bertema serius, berat, tetap memberikan pengalaman rekreatif.

Artikel Penulis Lain
Orang lain saja bisa melakukan mengapa Saya tidak?! Demikian pertanyaan yang harus keluar dari Anda ketika membaca artikel orang lain. Membaca artikel penulis lain akan menambah rasa kepercayaan diri dan motivasi. Akrab dengan idiom-idiom, penyajian yang di dalamnya mengandung unsur bagaimana data diperoleh, bentuk penyajian, model analisis data dan lain-lain.

Dengan banyak membaca artikel penulis lain, akan mengasah ketajaman Anda dalam mencari tema penulisan. Usahakan pengalaman sukses (pemuatan artikel) itu juga terjadi pada hidup Anda.

2. Meresensi Buku
Meresensi tidak sekedar menceritakan kembali isi suatu buku (sinopsis). Tapi juga mengkritisi, membandingkan dengan buku-buku lain yang sejenis. Memberikan catatan-catatan penting baik menyangkut keunggulan (segi-segi yang menarik dari suatu buku) maupun kekurangannya. Meminjam istilah mas Hernowo—mengikat makna.

Meresensi adalah cara lain kita ‘bercinta’ dengan buku. Anda ‘dipaksa’ untuk kenal dan akrab. Tidak hanya masalah isi (contents) tapi juga bagaimana buku tersebut dikemas (contexts). Ketika Anda meresensi suatu buku, Anda akan dituntut untuk membaca buku-buku lainnya. Tidak hanya itu, bahasan juga berpindah dari obyek (buku) ke subyek (penulis).

3. Rekam Bahagia, Rekam Derita
Membiasakan diri mencatat peristiwa yang dianggap penting sungguh berguna. Peristiwa-peristiwa kemanusiaan yang Anda alami maupun yang terjadi di luar sana. Dari sesuatu yang sederhana dan dianggap remeh temeh hingga kejadian yang begitu mengaduk-aduk sisi terdalam dari perasaan kita.

Pendokumentasian bisa lewat buku harian atau langsung dalam bentuk artikel meski tidak untuk tujuan dikirim ke media. Siapa tahu, di kemudian hari Anda berniat menulis artikel dan mengirimkan ke media, materi atau bahan tulisan yang pernah ditulis dulu dapat dijadikan sumber penting.

Rekaman kejadian juga bisa dalam bentuk klipingan koran dan majalah. Mengkliping, berarti Anda belajar mengorganisasi pekerjaan. Menyusunnya supaya mudah diakses, khususnya oleh Anda sendiri. Susun sesuai dengan tema atau jenis rubrik sekaligus berdasarkan time series (urutan waktu). Kliping dapat Anda jadikan sebagai salah satu sumber pusat data dan informasi. Sehingga ketika Anda mendapat ide dan berniat menulis akan dengan cepat direalisasikan lantaran ketersediaan data (kliping).

4. Ikut Mailinglist
Masih ingat tentang masterminds? Iya betul. Ikut mailinglist adalah bagian dari upaya mendapatkan masterminds. Dengan menjadi anggota suatu milis tanpa sadar, Anda telah terbawa pada situasi belajar yang mengasyikkan. Menawarkan nilai, berpolemik hebat, hingga harus semadi mengumpulkan bahan-bahan guna mempertahankan serangan, dan kemudian aktif kembali dengan jawaban yang panjang dan sophisticated, mendedahkan fakta, meruntuhkan pendapat, dan semua dilakukan dengan perasaan bahagia. Milis dapat digunakan pula sebagai sarana berlatih menggunakan dan mencintai bahasa.

Ketika Anda mendatangi diskusi/forum ilmiah Anda akan mendapat beragam analisis, komentar dari perpektif yang berbeda sehingga bisa menjadi second opinon tulisan Anda. Mengasah write skill communication (kepiawaian berkomunikasi melalui tulisan). Kesempatan melakukan jejaring dengan penulis lainnya, bertukar informasi baik soal perbukuan, penulisan kreatif, meminta anggota milis mengkritisi naslah Anda, dan 1001 macam tema diskusi lainnya.

5. Jalan-Jalan Menyapa Kehidupan
Membaca buku saja tidak cukup. Harus ada upaya melakukan kontemplasi, perenungan, sekaligus jalan-jalan melihat kenyataan kehidupan. Sehingga pemahaman kita terhadap sesuatu akan utuh, tidak parsial. Karena sering kali yang tertulis (das sollen) di buku berbeda dengan senyatanya kejadian (das sien). Membaca hanya menjadi sarana awal saja ketika kita ingin mengenal kehidupan yang sesungguhnya. Selebihnya ‘jalan-jalan.’

Kesediaan mendialogkan antara yang ideal dan yang riil, keberanian mengkonfrontasikan nilai-nilai lama yang sudah kadung kita yakini dengan nilai-nilai baru. akan membantu proses percepatan perkembangan intlektualitas kita. Tidak saja pemikiran tapi juga kepribadian.

6. Ikat Ide-Ide Brilian Anda
Datangnya sebuah ide sering kali tanpa diduga dan jauh dari kemampuan kita untuk menduga dan mereka. Ia bisa datang, kapan saja, di mana saja. Karena menjadi ‘tamu tak diundang’ menuliskannya menjadi sesuatu yang penting dan berguna. Sayang sekali jika ide-ide tersebut terlupakan, hilang begitu saja. Terelap oleh keringat lelah aktivitas teknis. Di mana ide-ide itu ditulis? Saya sarankan di diary alais buku harian. Tidak harus melulu mencatat ide-ide. Rutinitas kesibukan harian pun dapat dimasukkan.

Buku harian bisa menjadi noktah-noktaf pemikiran yang di masa depan bisa Anda rangkai menjadi sebuah karya tulis; artikel, novel, kolom atau lainnya. Kebiasaan menulis catatan harian yang tertib dan kronologis juga bisa membantu menulis sesuatu secara detail. Seperti yang pernah dilakukan Arnold Bennett, Virginia Woolf, Anton Chekov dan Sutan Sjahrir.

Dengan mempunyai catatan harian Anda mempunyai kebebasan yang lebih untuk berekspresi lewat tulisan, membina keberanian menulis tanpa harus menanggung malu, ancaman, dan curiga dari orang lain yang ingin menilai tulisan Anda. Apalagi mengekpresikan perasaan lewat tulisan mempunyai efek penyembuh.

Membicarakan catatan harian konteks Indonesia tentu Anda ingat dua nama yang oleh Yacop Oetama disebut sebagai manusia baru: Soe Hok Gie (Catatan seorang demonstran 1942-1969) dan Ahmad Wahib (Pergolakan Pemikiran Islam 1942-1972). Membaca catatan harian kedua orang ini pada bagian-bagian tertentu saya merasa sedang membaca kehidupan saya sendiri.

Kedirian mereka baik sebagai intektual maupun pribadi membuat saya terkagum-kagum. Mereka mampu tampil sebagai warga dunia dalam arti sesungguhnya. Tertarik kepada hampir semua masalah kemanusiaan, dan kebangsaan. Dan itu terjadi pada saat umur mereka belum 30 tahun.

Selain Wahib dan Gie— Mahatma Gandhi, Ernest Hemingway, Ernestto Che Guewara, Anne Frank, Zlata adalah nama-nama yang kita kenal lantaran mereka mempunyai catatan harian.

“Aku bukan Hatta, bukan Soekarno, bukan Sjahrir, bukan Natsir, bukan Marx dan bukan pula yang lain-lain. Bahkan…aku bukan Wahib. Aku adalah me-Wahib. Aku mencari, dan terus menerus mencari, menuju dan menjadi Wahib. Ya, aku bukan aku. Aku adalah meng-aku, yang terus menerus berproses menjadi aku Aku adalah aku, pada saat sakratul maut!”
(Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam)

“Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar….Makin lama, makin banyak musuh dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan?…. Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian.”
(Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran)

7. Berolahragalah
Satu hal yang sering dilupakan oleh banyak orang ketika membicarakan tentang habit yang mendukung aktivitas kepengarangan adalah berolahraga. Tepatnya menjaga kesehatan. Sepertinya kesehatan menjadi sesuatu lain, yang tidak layak dimasukkan ke dalam kategori habit. Padahal untuk menulis kita butuh enersi. Kesehatan menjadi klausa prima untuk mejamin kontinuitas berkarya.

Kita tahu Mochtar Lubis yang karateka itu. Hingga mendekati tutup usia, masih tetap berkarya. Pramoedya Ananta Toer lain lagi. Penulis tetralogi Bumi Manusia—mempunyai kebiasaan mencangkul hampir lima jam setiap harinya, belum lagi ditambah dengan bersih-bersih halaman rumahnya yang luas. Maka tak heran pada usia 80 tahun Pram masih punya ‘proyek’ menyelesaikan sebuah buku ensiklopedi yang bahan tulisannya (kertas, buku, dan lain-lain dokumen) mencapai ketinggian lima meter!.

Sedangkan Taufik Ismail, kita tahu penyair religius ini sangat hobi lari (jogging). Hasilnya? Ia masih bisa jalan-jalan ke pelosok kepulauan Indonesia dalam program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya. Padahal kawan-kawan segenerasinya satu-persatu sudah ‘pamit’ meninggalkannya.

Saya sendiri lebih senang jalan-jalan pagi setelah salat subuh. Sambil menghirup udara segar, menyaksikan rombongan ibu-ibu yang pergi ke pasar, ada yang jalan kaki dengan barang dagangan yang digendong, ada yang naik mobil bak terbuka harus berdiri dan bercampur dengan barang dagangan, sebuah pemandangan yang membuat saya kerdil.

Merekalah para pelobi-pelobi ulung. Sehingga Allah tidak menimpakan derita kepada hamba—Nya. Meskipun terbukti ngeyel, keras kepala. Tidak jarang saya membeli makanan, entah itu jagung rebus, jajan pasar, sayur-sayuran, ikan, buah-buahan, berdialog dengan bahasa mereka. Tawar menawar harga, yang sebenarnya lebih disebabkan keinginan saya untuk ngobrol lebih lama.

Entah mengapa, ketika kehidupan saya mulai lebih pagi, kok saya merasa lebih hidup. Saat seluruh telapak kaki saya berhimpit dengan bumi tanpa sesuatu pun berada di antaranya, saat pori-pori kaki saya berjalan ringan di atas rumput yang masih berembun. Merasakan dinginnya embun, membuat saya lebih bisa bersyukur. Tidakkah anda menginginkan itu semua? Atau Anda lebih memilih pola hidup Chairil Anwar. Karena hidupnya yang ‘kacau’ menderita bohemia dan meninggal di usia yang sangat muda, 27 tahun!

Pemetaan Pikiran

Written By Agus M. Irkham on 22 Apr 2009 | 00:12




:agusm.irkham

Minds Mapping (pemetaan pikiran) merupakan bentuk dari teknik membuat catatan. Ada banyak ide yang terus berputar di otak kita. Ada berpuluh masalah menggelayut di benak, menunggu segera diselesaikan. Ada bermacam persoalan emosional yang seringkali mereduksir perasaan. Kita perlu sesuatu agar semua persoalan, ide, rencana, kegundahan, dapat keluar dari memori otak, sehingga bisa segera disistematisir. Sesuatu itu adalah minds mapping.

Pemetaan pemikiran baik untuk menyusun sebuah rencana baik itu rencana pribadi, keluarga maupun institusi. Bahakan bisa menjadi media pengumpulan ide (brainstorming) sekaligus mengikatnya. Minds mapping memudahkan Anda membuat sistem atau alur kerja termasuk menulis artikel dan buku.

Minds mapping bisa menjadi semacam outline artikel. Sebelum dikembangkan ke dalam bentuk outline deskriptif. Dibandingkan dengan model pencatatan biasa (tradisonal) minds mapping lebih bisa meningkatkan daya ingat Anda, dari sisi penggunaan waktu juga hemat. Mendapatkan lebih kesempatan untuk menyelesaikan banyak hal, menemukan solusi terbaik dari masalah Anda. Semua tersusun lebih teratur, imajinatif, logis, dan tentu saja menyenangkan.

10 Alasan Kenapa Memilih Dunia Penulisan

Written By Agus M. Irkham on 27 Feb 2009 | 00:13

: Naijan Lengkong
 
Jadilah penulis kalau anda ingin jadi jutawan. Itulah anjuran saya mengawali tulisan ini. Kenapa? Setidaknya ada sepuluh alasan kenapa saya menganjurkan seperti itu:
 
1. Menulis dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja anda suka: dirumah, diluar rumah, di perjalanan, di kantor, di pesawat terbang, di kereta api, di mobil atau ditempat tidur sekalipun. Pokoknya dimana saja yang anda inginkan. Tahukah anda bahwa penulis terkenal Sean O Casey menulis novel pertamanya diatas sebuah kursi taman. O Henry (William Sydney Poter) berada di penjara ketika menulis karyanya yang pertama. Demikian juga Arsmendo Atmowiloto menulis karyanya Menghitung Hari dalam penjara, yang kemudian karya itu diangkat ke layar TV.

Sasterawan terkenal Taufik Ismail, banyak menghasilkan karya-karya terkenalnya berupa puisi ketika melaksanakan ibadah umrah di tanah suci. Jika anda tidak bisa mengungkapkan suatu fakta atas suatu kejadian, anda dapat mengembangkan imajinasi anda dengan menggabungkannya dengan kondisi dimana anda berada sedang berada. Pokoknya yang penting adalah bahwa anda hanya memiliki satu pekerjaan dan satu tujuan, yaitu menghasilkan karya yang dapat dibaca dan dapat dijual.
 
2. Bisnis menulis tidak terlalu membutuhkan waktu dan energi yang banyak. Semua terserah anda. Andalah yang menjadi manajer atas diri dan pekerjaan anda. Anda dapat bekerja satu jam, dua jam, setengah hari atau satu hari, semua terserah anda. Tidak ada yang akan memarahi anda karena anda bekerja untuk diri anda. Atau bisa saja anda bekerja pada malam hari, ketika orang lain sedang tidur lelap. Jadi lamanya waktu yang anda berikan untuk pekerjaan anda ini seluruhnya tergantung anda. Mulailah dari yang sederhana, misalnya menulis sebuah anekdot untuk sebuah majalah humor atau koran. Lalu mengikuti perlombaan yang diadakan oleh satu majalah atau surat khabar lokal atau bahkan lembaga-lembaga tertentu, baik itu lomba menulis cerpen, puisi, pantun, esei atau jenis tulisan lain.
 
3. Usiapun bukan masalah. Berapapun usia anda, tidak ada halangan untuk memulai menulis. Tidak ada alasan terlalu muda atau terlalu tua untuk memulai kegiatan menulis ini. Saya sendiri memulai menulis ketika berusia duabelas tahun. Kalau anda kenal Faiz si anak ajaib, putra tunggal sastrawan Helvy Tiana Rosa, mulai menulis sejak berusia empat tahun dan langsung menerbitkan karya-karyanya ketika berusia tujuh tahun.

Marion Howard Spring penulis Eleven Stories and a Beginning mulai menulis pada usia tujuhpuluh empat tahun. Kemudian Mary Ogilvie berusia sembilanpuluh tiga tahun ketika menyelesaikan buku pertamanya A Scottish Chilhood and What happened After pada tahun 1986. Selain itu banyak juga tokoh Indonesia yang mulai menulis justru ketika mereka mulai masuk masa pensiun.
 
4. Fisik bukan masalah. Ketidak berdayaan anda secara fisik tidak perlu menghalangi anda dalam berkarya. Banyak orang yang tidak mampu secara fisik yang telah menulis buku-buku yang sangat membantu dan memberikan inspirasi kepada orang lain, bahkan ketika ia cacat sekalipun.

Coba bayangkan, Christy Brown, yang lumpuh sekujur tubuhnya kecuali kaki kirinya yang kemudian digunakannya untuk menulis karya terbaiknya (best seller) yaitu My Left Foot. George Thomas, sementara tergolek tak berdaya di tempat tidur, menulis tiga buah buku selama lima tahun dengan menggunakan tangan kanannya yang digantungkan diatas pembaringannya.

Edith Bone yang dilarang menulis ketika dikurung di penjara Hongaria, tetap tidak putus asa. Dia menggunakan untaian rambutnya dan gumpalan-gumpalan roti menjadi cempoa (cipoa) dan digunakannya untuk berhitung dan menyelesaikan soal-soal Matematika. Dan justru inilah yang membuatnya bertahan hidup. Setelah dibebaskan iapun kemudian menulis outabiografinya.
 
5. Apapun jenis tulisan anda, yang penting dapat menarik para pembaca. Apakah itu ilmiah atau populer, sederhana atau kompleks, khusus atau umum, semua terserah anda. Asalkan tentu saja anda pasarkan pada media yang tepat. Anda dapat memilih pembaca sesuai dengan bidang dan juga keinginan anda sendiri. Dan ingat, selama anda tetap pada prinsip bahwa apapun yang anda tulis adalah untuk dijual, maka dunia menulis ini akan menjadi ladang mutiara bagi anda.
 
6. Apapun latar belakang anda, itu tidak penting. Juga apapun warna kulit anda: hitam, putih, kuning, merah atau dari ras atau agama apapun anda, semua bukan halangan untuk menulis. Kalau anda merasa berasal dari ras yang berbeda atau anda merasa “berbeda” dengan orang disekitar anda, itu sebenarnya merupakan keuntungan tersendiri bagi anda. Anda bisa menulis dengan thema keunikan diri atau ras anda itu Susunlah secara menarik sehingga enak dibaca dan dapat menambah pengetahuan orang lain tentang diri atau ras anda itu.

Chinua Achebe menceritakan kelebihan bangsa Nigeria dibandingkan bangsa lainnya melalui tulisannya Man of the People dan Thing Fall Apart. Ruth Prawer Jhabvalla, gadis kelahiran Polandia, menikah dengan pria suku Indian., banyak menulis tentang karakter dan pola kehidupan suku tersebut, yang kemudian berhasil diangkat ke layar lebar.

Sekarang bercerminlah anda. Apa yang anda miliki? Apa kelebihan diri anda? Apa keunikan pribadi, karakter, sifat, diri anda atau bahkan suku anda ketimbang yang lainnya? Dan tulislah! Yang perlu anda ingat, jadikanlah menulis itu seperti hiburan atau olah raga, sehingga anda melakukannya dengan riang.
 
7. Untuk memulai bisnis menulis, anda tidak perlu dana yang besar untuk modal awal. Andapun tidak perlu mengajukan kredit di bank. Modal awalnya cukup sebatang pena atau pensil dan beberapa lembar kertas. Dan anda sudah bisa mulai menulis. Kalau ingin mengetik naskah, untuk sementara pinjam saja mesin ketik manual dari teman, tetangga atau kerabat. Kalau tidak ada juga, numpang saja di kantor kelurahan pada sore atau malam hari selepas jam kantor. Gampang kan?
Dan tidak ada resiko finansial jika tulisan anda tidak terjual, kecuali rugi beberapa lembar kertas saja dan prangko.

Yang anda butuhkan seluruhnya ada dalam benak anda berupa ide-ide tulisan dan juga kemampuan memindahkannya menjadi bentuk tulisan agar mudah difahami para pembaca, terutama para editor, sehingga mereka mau menerbitkannya. Setelah itu anda tinggal menunggu kiriman wesel dari penerbit, atau anda langsung mengambilnya di kantor redaksi. Atau kalau anda menyertakan juga nomor rekening bank anda, anda hanya tinggal mengeceknya di rekening dengan kartu ATM.
 
8. Peluang untuk bisnis penulisan ini selalu terbuka lebar, bahkan pada masa resesi sekalipun. Hal ini karena setiap orang butuh bacaan sebagai sumber informasi. Saat ini terdapat ratusan media massa cetak di Indonesia tercinta ini, baik itu berupa surat khabar harian, tabloid ataupun majalah yang terbit mingguan, ataupun bulanan. Bahkan saat ini terdapat ratusan bahkan ribuan radio di seluruh Indonesia dan puluhan stasion televisi local dan nasional. Tanyakanlah pada pengelolanya, pasti mereka butuh naskah setiap hari, baik itu naskah berita atau drama. Dan itu peluang anda.
 
9. Keuntungan lainnya adalah adanya kepuasan batin. Kepuasan ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Seorang penulis, terutama para pemula, akan merasakan kebanggaan dan kepuasan yang tiada taranya ketika ketika hasil karya dimuat di sebuah majalah atau surat khabar. Bahkan walau hanya sebait puisi. Atau bahkan jika tidak mendapatkan honor sekalipun, karena karyanya akan dikenal oleh ribuan atau jutaan pembaca. Namanya akan dikenal dan itu investasi bagi penulis. Anda tidak percaya, silahkan coba sekarang!
 
10. Khusus bagi wanita, profesi menulis adalah profesi yang sangat memungkinkan. Bagi anda para wanita, jika berkarir dibidang lain selain bidang penulisan ini, anda dibatasi oleh kemampuan fisik dan juga jenjang pendidikan. Dalam bidang apapun, harus diakui bahwa kaum pria saat ini lebih mendominasi ketimbang wanita, karena pria mempunyai kelebihan secara fisik. Ini adalah kenyataan yang tidak bisa anda bantah.

Tapi untuk menjadi penulis, pembatasan itu tidak berlaku. Bagi anda para ibu rumah tangga, mengurus rumah dan melayani suami dan anak-anak bahkan mengurus bayipun tidak menjadi penghalang. Yakinlah bahwa anda bisa mencuri waktu ketika bayi anda tertidur atau setelah semua pekerjaan mengurus rumah selesai. Anda bisa menghentikan pekerjaan menulis anda setiap saat ketika anak anda terbangun dan menangis minta disusui atau anda harus menyambut suami yang baru pulang dari kantor.
 
Maka kesimpulannya adalah bahwa cara mendapat uang dari menulis itu gampang. Tidak sulit bagi anda menjadi jutawan dengan menulis. Sekarang tergantung anda sendiri, maukah anda menyempatkan waktu untuk menulis?►
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. kumpulan artikel gratis - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger